Catatan.co – KISAHKU. Ujian Hidup Mengajarkanku Ketaatan Kepada Allah. Tidak pernah terpikir sedikit pun sebelumnya di kepalaku, ketika menikah dan menyandang status seorang istri akan merantau ke luar pulau, meninggalkan kampung halaman. Dan dari sini semua perjalanan hidupku di mulai.
Mulai dari harus menghadapi kerasnya kehidupan sebagai tulang punggung keluarga, korban KDRT, menjadi janda bersama anak, menikah kedua kali, dan menjadi seorang aktivis dakwah yang terus ingin memperbaiki diri untuk bisa lebih baik.
Kupikir, ketika melihat orang menikah hidupnya akan bahagia dengan menjadi seorang istri, dinafkahi suami sehingga tidak lagi menjadi beban orang tua. Nyatanya, impian itu tidak seindah yang kubayangkan.
Sulitnya mencari pekerjaan dari awal menikah sampai memiliki anak, membuat mantan suami merasa nyaman. Apalagi tinggal di rumah yang berdampingan dengan rumah orang tuanya. Ketika dibantu bekerja malah bergantung kepada istri, masih juga minta makan ke orang tuanya, padahal sama-sama kekurangan dalam ekonomi.
Kuatnya keinginan mandiri agar suami mau bekerja dan memberikan nafkah layaknya orang berumah tangga, membuat kami langsung menerima tawaran merantau dari sepupu yang tinggal di Bontang, Kalimantan.
Hampir dua bulan tiba di Bontang kami menumpang di rumah kontrakan sepupu yang mengajak kami merantau tersebut. Suami pun mulai bekerja sebagai tukang bangunan. Kami menumpang tinggal di rumah kontrakan sepupu yang terbilang mempunyai keluarga besar. Adanya kami menambah sesak rumah kontrakan tersebut. Tentu aku merasa sungkan dan tak enak hati. Awalnya suami tidak ada inisiatif pindah rumah, tapi karena selalu kudesak, akhirnya ia mau juga mengontrak rumah dengan modal pinjam uang sepupu.
Tahun 2003, Bontang masih termasuk kota kecil. Pembangunan jalan pun baru dimulai pada tahun itu. Dari pembangunan jalan itu, rezeki keluarga kami datang. Ia mulai bekerja ikut borongan membuat parit jalan umum. Sebagai istri yang terbiasa menjadi pekerja keras, aku pun membantu perekonomian keluarga dengan jualan kecil-kecilan jajanan anak-anak. Terkadang aku juga menerima cuci setrika pakaian tetangga.
Akan tetapi, adanya pekerjaan lancar tidak membuat suami makin fokus menata masa depan. Anak makin tumbuh besar tentu butuh biaya pendidikan. Sayangnya, suami mulai suka minuman keras, mabuk-mabukan, jika diingatkan selalu terjadi kekerasan dengan hantaman fisik ke tubuhku. Minimnya ilmu dan pemahaman tentang pernikahan membuat aku hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada hidupku. Di tambah aku jauh dari keluarga, aku harus menurut, manut ikut suami. Itulah keseharianku selama beberapa tahun.
Setelah tujuh tahun tinggal di Bontang, lahirlah anak kedua beda 11 tahun dengan kakaknya. Suami tidak ada tanda-tanda berubah. Karena kulihat ia sering mabuk-mabukan pulang malam, kerja kadang masuk, kadang tidak, giliran tidak ada pekerjaan marah-marah kepada anak istri membuat rumah seperti neraka.
Aku memutuskan kepada suami meminta untuk pulang ke Jawa bersama anak-anak berharap dia bisa berubah, karena dengan adanya bayi aku tidak bisa membantu bekerja lagi. Aku berharap dengan tinggal di Jawa suami mengirim uang nafkah dari Bontang, kebutuhan hidup di Jawa bisa lebih meringankan.
Namun, ternyata tidak ada sedikit pun perubahan. Di tinggal ke Jawa, bukannya lebih baik, malah suami bertambah parah. Perabotan rumah dijual untuk mabuk-mabukan, nafkah juga seadanya, banyak alasan yang disampaikan karena hidup sendiri. Setelah barang perabotan rumah habis, ia mendapatkan pekerjaan di Waho, Kutai Kartanegara, daerah Kalimantan juga.
Kabar kurang enak kudapatkan dari bosnya bahwa ia selingkuh. Kemudian aku menyusulnya setelah anak kedua usia 18 bulan, dan anak pertama kutinggal di Jawa karena mau menyelesaikan sekolah SD kelas enam. Ia mengaku dan minta maaf, tetapi di belakangku masih terus berhubungan dengan selingkuhannya.
Aku meminta balik ke Bontang tahun 2011, anak pertama di Jawa sudah lulus SD dan masuk SMP di Bontang. Kami tinggal dekat paman dan sepupu suami dengan menyewa tanah, membangun rumah berdinding triplek dan atap seng kecil-kecilan. Kami bersama lagi layaknya keluarga utuh.
Beberapa bulan kami tinggal di Bontang, karena suami tidak ada pekerjaan aku bekerja menerima lagi cuci setrika baju. Sedangkan suami tidak ada pekerjaan dan akhirnya memutuskan balik lagi ke Waho. Aku hanya bisa pasrah, karena bosan juga kalau sudah tidak bekerja sukanya marah-marah, kata-katanya kotor, tidak jarang aku dan anak-anak jadi sasaran hantaman fisik jika sedikit saja melawan. Tidak peduli anak kami yang masih usia 3 tahun jika menangis susah diam sampai dipukul sandal mulutnya.
Bulan dan tahun berlalu, hari-hari kulalui dengan nyaman tanpa ada rasa ketakutan. Setiap bulan dia rajin transfer uang untuk kebutuhan kami. Aku juga masih bekerja seperti biasa menerima cuci setrika baju dan jualan jajanan online. Beberapa bulan kemudian menjelang kelulusan anak pertama, kiriman nafkah suami makin berkurang. Berbagai alasan karena hidup sendiri juga butuh biaya dan tidak selalu kerja, menjadi andalan jika aku menanyakan, membuatku mau tidak mau harus pasrah.
Aku menyibukkan diri dengan ikut kajian intensif Islam kafah yang membuatku sedikit menghilangkan pikiran buruk. Di dalam aktivitas kajian Islam kafah aku banyak disadarkan tentang pemahaman agama, dan mengajarkan pentingnya menjaga akidah. Aku banyak mendapatkan teman-teman salihah yang ilmunya sangat luas, dan masih muda-muda dariku. Guru pertama yang mengenalkanku adalah seorang istri ustaz terkenal di daerah kami.
Beliau juga bos pelanggan tetap kerjaku, aku memanggilnya “Umi”, usianya lebih tua empat tahun dariku. Beliau begitu sabar dan telaten mengantar jemputku ke kajian. Aku banyak mendapatkan pelajaran, pemahaman, dan kesadaran untuk berhijrah menutup aurat secara syar’i sebagai kewajiban seorang muslimah.
Dengan kajian intensif ini sedikit demi sedikit aku memulai proses membentuk pemikiran, dan pola sikap islami. Hidupku merasa tenang di saat berkumpul dengan teman-teman kajian, mendapatkan amanah sebar buletin, menjadi panitia acara, mengajak teman dan tetangga ke kajian kami.
Nyatanya hidup tak selalu berjalan di jalan lurus dan datar. Hidup di dunia memang tempat permasalahan, kesulitan, dan sakit agar manusia bisa bersyukur dan introspeksi.
Dimulai dari adanya kabar mengejutkan ketika anakku lulus SMK dan hendak bekerja. Ketika anakku mengurus pembuatan dan perbaruan KTP dan KK, Kantor Catatan Sipil (Capil) menyatakan ada dua dokumen, harus ada salah satu, jika tidak diselesaikan bisa menjadi masalah. Setelah kuusut ke suami, ternyata dia sudah menikah lagi dan memiliki anak usia 9 bulan.
Kaget, syok, marah, benci hingga terasa menyesakkan dada. Hancur hatiku pada saat itu. Aku menangis merasa dikhianati, mengadu kepada Allah mohon jalan terbaik-Nya, meminta kekuatan dan kesabaran.
Suami meminta pulang ke Bontang bersama istrinya dan mengirimkan uang agar aku mencarikan rumah kontrakan yang murah dekat rumah. Setelah kudapatkan kontrakan yang sudah lama tidak ditempati banyak kotoran tikus di dalamnya . Sebelumnya aku bersihkan dulu ruang tamunya saja, karena tidak tega akan ada anak kecil yang mau menempati.
Keesokan malam harinya, mereka datang dengan mobil truk membawa perabotan rumah tangganya. Dua hari kemudian maduku baru datang ke rumahku bersama anak dalam gendongannya, ia meminta maaf dan menjelaskan bahwasanya dia bukan perebut suami, tapi dia dijebak karena kondisinya saat itu sebagai istri orang yang harus menceraikan suaminya.
Aku katakan bahwasanya aku tidak berhak menghakimi mereka karena kami sudah sama-sama dewasa, apalagi mengatakan merasa dijebak. Statusnya yang sama-sama menikah harusnya tahu batasan. Kalau saja hukum Islam saat ini diterapkan mereka bisa dihukum rajam, dilempari batu sampai mati karena berzina sehingga jera. Jujur aku katakan kalau tidak bisa hidup di poligami dari orang yang tidak paham akan agama. Apalagi istri dijadikan tulang punggung keluarga. Rumah masih ngontrak, pekerjaan suami kadang ada, tapi banyak nganggurnya. Aku lebih memilih mundur, dan berhusnuzan kepada Allah akan nasib kami. Apa yang diharapkan dari keluarga macam begini kalau ujungnya selalu dikhianati?
Mendengar perkataanku, suami yang dari tadi hanya menjadi pendengar marah besar, ia mengambil parang menjatuhkan foto keluarga kami dan menghancurkannya. Maduku keluar rumah sambil menggendong anaknya, sementara aku hanya duduk diam di tempat, karena sedikit saja aku melawan dan membantah bisa melayang parang ke tubuhku.
Baca Juga: Penanganan Stunting
Aku beristigfar, memohon perlindungan Allah yang aku punya, tidak ada orang tua atau saudara di perantauan ini. Anak-anak mengunci kamar melihat ayahnya kesetanan, tetangga dekat sekalipun keluarga mau dengar atau tidak, enggan mau mencampuri urusan orang lain. Begitulah hidup di dalam sistem rusak sekuler kapitalisme yang individualis.
Rumah tangga yang sudah hancur tidak ada ketenangan lagi. Suami kembali ke setelan semula, bergantung hidup makan tidur di rumahku. Sedangkan maduku di kontrakan bersama anaknya banting tulang di tempat baru dengan menawarkan diri menyetrika pakaian tetangga untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya.
Jika banyak pekerjaan anaknya dititipkan ke rumah diasuh ayahnya. Karena pekerjaanku di rumah, aku melihat kerepotan suami karena anaknya menangis keras susah ditidurkan. Mau tidak mau aku ambil dan menggendongnya yang langsung tertidur pulas dalam dekapanku.
Beberapa hari kemudian setelah Subuh, aku dikejutkan maduku yang menangis, membawa anaknya yang panas tinggi sehingga kejang dengan mulut menganga. Maduku meminta maaf atas kesalahannya dan meminta tolong padaku, siapa tahu bisa menyembuhkan anaknya. Aku yang bengong harus ngapain, disuruhnya memberikan minum ke mulut anaknya. Kuambil air dengan sendok di gelas dan kubacakan “bismillah”, masyaallah, ia langsung sadar di pangkuanku dan melihat sekeliling sampai kemudian ia melihat ayahnya, kemudian lari ke pelukannya. Setelah jam 7.00 kuajak ayahnya mengantar anaknya ke puskesmas.
Menjelang dua bulan berlalu, maduku tidak tahan tinggal di Bontang karena harus bayar kontrakan sedangkan suami pengangguran. Gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maduku menuntut suami minta pulang ke Jawa. Saat itu suami dapat pekerjaan borongan dari keponakannya untuk membuat satu rumah. Beberapa hari kudengar maduku sudah dibelikan tiket pesawat pulang, dan aku sudah tidak mendengar lagi beritanya.
Berjalannya waktu, anakku menikah dengan teman kerjanya, dan tinggal bersama mertuanya yang janda dan ipar perempuan yang masih sekolah. Ketika minta restu untuk menikah sebenarnya hatiku kurang setuju karena kulihat calon menantu sepertinya masih “anak mama”. Sebulan menikah ujian datang dari suaminya, dia keluar dari pekerjaannya saat anakku hamil empat bulan. Anakku tetap bekerja, tak lama ada kebijakan karyawan tidak boleh hamil. Tinggal di rumah mertuanya, anakku tidak ada kecocokan sehingga mereka memutuskan untuk mengontrak rumah. Mertuanya marah kepada mereka dan terus menelepon anaknya untuk pulang dan makan di rumahnya.
Setelah dua minggu pindah di kontrakan, anakku berhenti bekerja, suaminya pun tidak lagi pulang ke rumah kontrakannya. Ketika ditemui ke rumah orang tuanya, tidak ada kejelasan. Menantuku hanya diam saja, menurut apa kata ibunya yang mengatakan anaknya mau bekerja ke Kota Semarang. Bapak dan Ibu RT yang menemani kami pun berusaha menasihati mertua anakku, bahwa anaknya adalah seorang suami yang tetap harus meminta izin istrinya, apalagi mau ditinggal dalam keadaan hamil. Mertuanya dengan angkuh mengatakan akan melihat kondisinya dulu dan meminta anakku tinggal kembali denganku.
Aku merasa terhina sekali karena anakku tidak jelas nasibnya, dan menyesali tidak habis pikir mengapa dia memilih laki-laki macam itu. Ketika anakku menikah, nasihatku tidak didengarnya dan lebih mendengarkan ayahnya yang dirasa selalu mendukungnya terlepas benar atau salah. Giliran anaknya bermasalah dia tidak bisa berbuat apa-apa, menyalahkan anaknya dengan umpatan dan kata kasar yang membuat mental anak lemah. Bersyukur anakku kuat, mungkin karena sudah terbiasa mendengar umpatan ayahnya sehari-hari.
Sampai cucuku lahir, dia tidak mengenal bapaknya, ketika nenek dari ayahnya dikabari pun tidak ada respons. Kami pun tidak lagi berharap banyak, biarlah Allah yang membalas kesalahan mereka. Aku serahkan hidupku sepenuhnya kepada Allah.
Banyak permasalahan hidup yang harus kuselesaikan sendiri. Di setiap salat kubersimpuh memohon kepada Allah agar dikuatkan jiwa ragaku, termasuk kewarasan mental dengan suami temperamen. Aku harus banting tulang bekerja, adapun suami bekerja ia lebih mementingkan rokoknya daripada memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari.
Sekuat dan setegar apa pun, aku juga manusia biasa, bisa lelah juga sakit, hingga dokter memvonisku menderita penyakit kista dengan ukuran sudah mencapai 9 cm, operasi pun menjadi saran darinya. Tanpa berpikir panjang aku bersedia operasi, karena aku harus sehat kuat menjalani hidupku. Hidup ini keras, butuh perjuangan dan ikhtiar.
Setelah operasi, kehidupan terus berlanjut. Ujian demi ujian pun harus tetap kuhadapi. Mungkin ini cara Allah menyayangiku agar lebih dekat lagi kepada-Nya.
Bersambung … []
Penulis: Siti Mukaromah
Aktivis Dakwah




