Job Hugging Dampak Kapitalisme Global

Job Hugging Dampak Kapitalisme Global

Catatan.co – Job Hugging Dampak Kapitalisme Global. Fenomena job hugging sedang melanda generasi, baik dalam maupun luar negeri. Saat perekonomian global makin lesu, PHK kian meningkat, pasar kerja tak bergairah, dan kinerja perusahaan tidak optimal, job hugging menjadi pilihan generasi agar tetap bertahan hidup meski tak sesuai ekspektasi.

Job hugging adalah kondisi pekerja yang bertahan di satu pekerjaan dan tidak ingin mencari pekerjaan baru, meski pekerjaan yang dijalani tersebut kurang disukai. Misalnya, karena gajinya rendah, sementara pekerjaannya sangat berat, atau alasan lain sehingga tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Said Iqbal, Presiden Partai Buruh menilai, tekanan ekonomi dan ketidakpastian lapangan pekerjaan menjadi pemicu pergeseran tren job hugging. Tren job hugging ini sangat berbeda dengan job hoobing yang dulu sempat disukai generasi muda. Di mana mereka berlomba-lomba berpindah ke pekerjaan baru yang memberikan peluang gaji besar, membuat mereka dapat berkarya serta berkembang sesuai kemampuan, sehingga tidak tampak stagnan.

Minimnya pembukaan lapangan kerja membuat pekerja merasa ragu untuk keluar dari pekerjaan lamanya. “Suplay dan demand tenaga kerja belum seimbang, lebih banyak suplay ketimbang demand. Ini mejadi tugas pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja baru.” ungkap Said Iqbal. (https://www.tempo.co/ekonomi/kenapa-job-hugging-jadi-tren-baru-di-kalangan-pekerja-muda-2072910)

Bahaya dan Penyebab

Job hugging yang dijalankan secara terus menerus dapat membahayakan para pekerja. Pasalnya, kondisi ini dapat berakibat hilangnya keseimbangan hidup. Pekerja akan mengalami kelelahan berat, baik jiwa maupun tenaga sehingga para pekerja rentan mengalami stres. Keterikatannya dengan pekerjaan yang berat akan melalaikan kondisi kesehatan, keluarga, teman, dan hobi dirinya sendiri.

Kondisi di atas akibat perusahaan sering menekan karyawannya agar lebih giat dalam kinerjanya. Misal dengan adanya penambahan jam kerja, agar dapat meningkatkan target perusahaan. Namun, hal ini sering kali tidak diikuti perhatian perusahaan dalam menjamin kesejahteraan karyawan. Akibatnya, karyawan mengalami kebosanan karena merasa lelah dengan pekerjaannya yang terkesan monoton.

Di sisi lain, ketimpangan antara tenaga kerja dan lapangan kerja yang ada, menjadi salah satu pendorong untuk mempertahankan pekerjaannya meski itu tidak nyaman. Bagi mereka, yang terpenting penghasilan tetap ada. Apalagi, di tengah situasi perekonomian yang sulit, membuat harga kebutuhan barang dan jasa kian meningkat.

Begitu juga banyaknya perusahaan yang mem-PHK karyawannya, akibat situasi ekonomi global mengalami resesi dan inflasi. Tentu hal ini menjadi problem yang dikhawatirkan pekerja.

Inilah fenomena job hugging yang merupakan reaksi dari sistem kapitalisme global yang tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang layak bagi rakyat.

Dampak Kapitalisme Global

Sangat dibenarkan bila kapitalisme global menjadi akar masalah terjadinya job hugging. Hal ini dikarenakan negara berlepas tangan dalam penyediaan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. Negara justru menyerahkan penyediaan lapangan kerja kepada pihak swasta. Fungsi negara sekadar sebagai regulator dalam membuat kebijakan yang memberikan karpet merah bagi para pemilik modal.

Baca Juga: Fenomena Job Hugging

Sementara, kondisi perekonomian global yang tidak menentu berdampak terhadap penekanan produktifitas dan efisiensi perusahaan, sehingga kebutuhan tenaga kerja serta biaya produksi akan disesuaikan. Seiring adanya perkembangan teknologi, perusahaan melakukan efisiensi dengan mengalihkan tenaga kerja ke mesin dan teknologi. Hal ini berimbas pada lowongan kerja yang makin menyusut.

Beginilah bila negara tidak terlibat dalam penyediakan lapangan kerja, maka keberlangsungan hidup pekerja akan bergantung pada mekanisme pasar. Di antaranya yakni, pertama, upah pekerja akan mengikuti standar upah kebutuhan hidup paling minimum. Kedua, pekerja akan bersaing satu sama lain demi mendapat lapangan kerja yang tersedia.

Ketiga, pekerja mudah terdampak PHK tergantung situasi dan kondisi ekonomi. Keempat, pekerja juga akan menggantungkan hidupnya kepada perusahaan sehingga mau tak mau harus mengikuti tuntutan dan kebutuhan perusahaan. Oleh karena itu, pekerja rentan tereksploitasi baik tenaga, waktu, dan pikiran.

Beginilah kondisi para pekerja di negara kapitalisme yang dibiarkan berjuang dan mengurus hidupnya sendiri, sehingga mereka terjebak pada fenomena job hugging.

Islam Menyediakan Lapangan Kerja

Islam hadir bukan sekadar sebagai agama yang hanya mengatur urusan peribadatan. Namun, Islam hadir untuk mengurus seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalam menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya. Pemimpin (khalifah) dalam Islam bertugas mengurus dan melayani rakyat. Sebagaimana hadis Rasulullah saw. yang berbunyi,

Pemimpin (khalifah) adalah raa’in (pengurus) bagi rakyatnya dan kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. tentang kepengurusannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, bila merujuk hadis di atas khalifah berkewajiban menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi rakyat. Dalam hal ini, Islam memiliki mekanisme yang komprehensif untuk mencegah terjadinya pengangguran, di antaranya sebagai berikut;

Pertama, negara akan mengelola SDA secara maksimal hingga mampu menyerap tenaga kerja secara luas dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Baik dari tambang, hutan, air, dan energi. Berbeda dengan sistem kapitalisme yang menyerahkan pengelolaan SDA kepada swasta baik asing maupun lokal, yang hasilnya lebih banyak dinikmati oleh korporasi dan oligarki.

Kedua, menerapkan syariat ihyaul mawat, yaitu menghidupkan kembali tanah mati untuk diolah dan dimanfaatkan sesuai kemampuan sehingga menjadi tanah produktif dan dapat menjadi peluang besar untuk menyerap tenaga kerja.

Ketiga, negara akan memberikan kemudahan modal tanpa riba bagi rakyat yang ingin membuka usaha, sehingga membuka peluang rakyat untuk mengembangkan kemampuan dan bakatnya.

Demikian Islam dalam menjamin rakyatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Negara akan memastikan laki-laki atau suami dapat bekerja agar dapat memberikan nafkah bagi keluarganya. Bahkan, bagi laki-laki atau suami yang tidak mampu mencari nafkah karena sakit atau cacat fisik sedangkan keluarga juga tidak mampu membantu, maka negara akan menjaminnya melalui baitulmal.

Islam sejatinya memandang umat semuanya sama, mereka berhak mendapat kesejahteraan. Untuk itu, negara akan melarang harta terkonsentrasi pada segelintir orang. Sehingga, tidak terjadi ketimpangan sosial yang menjadi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Masyarakat islami yang saling tolong menolong pun akan tercipta. Negara juga menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar umat. Pun dengan kebutuhan lainnya akan didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah.

Khatimah

Dengan demikian, selama sistem kapitalisme masih diterapkan oleh negara maka job hugging akan terus ada. Saatnya beralih ke sistem Islam kafah yang menjamin penyediaan lapangan kerja yang layak, sehingga dapat menyejahterakan rakyat.

Wallahualam bissawab.[]

Penulis: Tutik Haryanti

Aktivis Muslimah