Catatan.co – Gaza Belum Baik-Baik Saja. Gencatan senjata bukan akhir dari tragedi. Begitulah kondisi yang terus menjerat warga Gaza hari ini. Dunia mungkin menyangka bahwa ketenangan telah kembali dan perang telah berhenti. Namun, realitasnya sangat jauh berbeda. Tenda-tenda mereka kembali roboh, tangisan anak-anak masih terdengar, dan rasa kehilangan tak pernah berakhir.
Warga Gaza yang sebagian besar hidup di tenda pengungsian di terpa badai musim dingin. Hujan deras dan air pasang menenggelamkan tenda, memaksa keluarga tidur dalam basah dan cuaca beku. Meski gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025, blokade material penting termasuk tenda tahan cuaca dan rumah mobil tetap berlanjut, sehingga rakyat tidak dapat memperbaiki tempat tinggal mereka. Sejak gencatan dimulai, masih terjadi serangan yang menyebabkan lebih dari 280 korban tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
https://m.antaranews.com/berita/5244481/unrwa-hujan-perburuk-situasi-di-gaza?utm_source=antaranews&utm_medium=mobile&utm_campaign=latest_category
Dengan kondisi seperti itu, bagaimana dunia bisa mengatakan “Gaza baik-baik saja?” Kenyataan yang terjadi di Gaza mengungkap satu kebenaran besar, yakni gencatan senjata hanyalah jeda semu, bukan penyelesaian masalah. Selama akar persoalan tidak disentuh (penjajahan), penderitaan rakyat Palestina akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.
Barat selalu menampilkan narasi bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik lewat diplomasi, bantuan kemanusiaan, hingga perjanjian damai. Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa semua itu tidak mengakhiri penindasan, hanya mengatur ritme penderitaan agar tampak “terkontrol”.
Sebab Penderitaan Gaza
Gencatan senjata dikendalikan oleh kepentingan politik, bukan rasa kemanusiaan. Dunia internasional lebih fokus menjaga stabilitas geopolitik dibanding menyelamatkan nyawa manusia. Media yang menjadi arus utama, sering membungkam realitas sebenarnya dengan bahasa yang menenangkan telinga para pemegang kepentingan. Ada narasi yang terus dipaksakan bahwa Gaza sudah aman karena tembakan dihentikan. Padahal rakyat semakin menderita, ketika badai merobohkan tempat tinggal mereka, ketika blokade menghalangi mereka memperbaiki hidup, dan ketika ketakutan masih mengintai setiap saat.
Inilah bukti bahwa sistem internasional hari ini bukan sekutu bagi bangsa terjajah. Mekanisme politik global dibangun untuk mempertahankan siapa kuat mengatur, siapa lemah menerima. Palestina ditempatkan sebagai objek negosiasi, bukan sebagai bangsa merdeka yang berhak menentukan nasibnya sendiri.
Kemudian muncul pertanyaan, mengapa negeri-negeri muslim yang jumlahnya puluhan dan memiliki kekuatan besar justru hanya menyumbang selimut dan doa? Jawabannya karena mereka berjalan mengikuti skenario politik Barat, bukan mengikuti panduan Islam dalam membela saudara yang ditindas.
Baca Juga: Sistem Kapitalis
Akibatnya, solidaritas umat hanya menjadi seremonial emosional tanpa kekuatan politik yang mampu menumbangkan penjajahan. Dunia ingin Gaza tetap hidup, tapi bukan hidup merdeka. Mereka dibiarkan bertahan asal tidak bangkit. Jika umat Islam menunggu dunia untuk menyelesaikan masalah Palestina, maka itu sama dengan membiarkan peta penderitaan ini diwariskan untuk anak cucu mereka generasi penerus.
Solusi Islam
Islam tidak menawarkan sekadar kemanusiaan, tetapi solusi secara sistemis dan menyeluruh. Palestina bukan isu pinggiran bagi umat, ia adalah amanah, akidah, harga diri, dan persaudaraan iman.
Ada tiga pilar solusi Islam yang harus kembali ditegakkan:
1. Kepemimpinan Islam sebagai pengambil keputusan.
Negeri-negeri Muslim tidak boleh hanya menjadi penonton atau donatur. Dalam Islam, pemimpin wajib menolong saudara seiman yang dizalimi. Menghapus penjajahan di atas wilayah kaum muslim, melindungi kehormatan dan keselamatan rakyat Palestina. Tanpa kekuasaan politik yang bersatu, umat Islam akan terus dipermainkan oleh kepentingan asing.
2. Jihad sebagai pembebasan, bukan kekerasan membabi buta.
Jihad dalam konteks Palestina adalah pembelaan sah terhadap bangsa tertindas untuk mengusir penjajah. Itulah hak terang sebagaimana diakui syariat. Selama penjajahan berlangsung, selama itu pula jihad menjadi kewajiban bersama umat, bukan pilihan emosional. Jihad adalah pesan bahwa Palestina harus merdeka dengan kedaulatan, bukan sekadar eksistensi.
3. Negara Islam sebagai “junnah” (perisai) bagi seluruh umat.
Negara Islam bukan simbol nostalgia sejarah, tetapi otoritas politik global yang dapat menandingi dominasi negara penjajah. Perlindungan nyata bagi umat Islam di seluruh dunia, dan kebijakan independen yang berpihak penuh pada pembebasan Al-Quds.
Dalam bingkai negara Islam, pembelaan terhadap Palestina bukan lagi wacana konferensi, tetapi kebijakan negara yang wajib dieksekusi. Rakyat Gaza tidak membutuhkan kalimat “semoga cepat pulih”, karena mereka bahkan belum pernah sembuh dari luka yang sama sejak puluhan tahun lalu. Mereka tidak butuh dunia berkata “baik-baik saja” karena mereka jelas tidak baik. Yang mereka butuhkan hari ini adalah pemimpin yang berani memutus ketergantungan pada Barat, umat Islam yang bersatu dalam langkah bukan hanya empati, tetapi kekuatan nyata yang meniadakan penjajahan.
Palestina bukan sekadar halaman berita atau _trending topic_, ia adalah pengingat bahwa umat ini masih punya agenda yang belum selesai. Selama Masjid Al-Aqsa belum merdeka, selama itu pula kita tidak boleh berhenti berjuang. Serta menuntut solusi hakiki yang mampu membebaskan mereka secara total dengan Islam sebagai sistem kehidupan dalam bingkai Negara Islamiah. []
Penulis: Eka Sulistya
Aktivis Muslimah




