Gen Z di Bawah Hegemoni Digital

Gen Z di Bawah Hegemoni Digital

Catatan.co – Gen Z di Bawah Hegemoni Digital. Scroll, like, repost, repeat. Pola ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi cara kerja sebuah sistem. Media sosial hari ini tidak netral. Ia dibangun, diatur, dan diarahkan oleh kepentingan ekonomi dan ideologi tertentu. Di sanalah Gen Z tumbuh, bukan dalam ruang kosong, melainkan di tengah hegemoni nilai sekuler-kapitalistik yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bahkan merasa.

Gen Z sering dicap lemah dan rapuh. Namun, tuduhan ini menutup fakta penting, bahwa mereka hidup dalam tekanan sistemis yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Mereka kritis, peduli, dan berani bersuara, tetapi suara itu sering terperangkap dalam logika sistem yang justru melemahkan arah perjuangan mereka.

Tekanan Digital

Era digital adalah keniscayaan. Media sosial menghadirkan kemudahan belajar, akses informasi cepat, dan ruang partisipasi publik yang luas. Namun, bersamaan dengan itu, ia juga memproduksi tekanan psikologis yang serius.

Artikel Detik.com menegaskan bahwa Gen Z menghadapi tekanan berat dari media sosial: budaya perbandingan, tuntutan validasi, dan kecemasan sosial yang berdampak pada kesehatan mental. Kehidupan digital menuntut kehadiran terus-menerus dan sikap yang “selalu benar”.

(Sumber: https://news.detik.com/kolom/d-7878505/gen-z-dan-tekanan-media-sosial)

Sementara itu, Kompas.id mencatat bahwa media sosial menjadi medium utama aktivisme Gen Z. Isu global dan lokal dengan cepat dimobilisasi, solidaritas dibangun lintas batas, dan suara anak muda menjadi faktor penting dalam wacana publik.

(Sumber: https://www.kompas.id/artikel/aktivisme-media-sosial-ala-gen-z https://www.kompas.id/artikel/aktivisme-media-sosial-ala-gen-z )

Fakta ini menunjukkan dua sisi, yaitu potensi besar sekaligus tekanan yang sistemis.

Ruang Tak Netral

Masalah utama bukan pada Gen Z, tetapi pada ruang digital itu sendiri. Media sosial beroperasi dalam logika sekuler-kapitalistik yang memonetisasi emosi, mengejar atensi, dan mengubah interaksi manusia menjadi komoditas.

Algoritma tidak mempromosikan kebenaran, tetapi kontroversi. Tidak mengutamakan kedalaman, tetapi sensasi. Akibatnya, nilai yang dominan adalah nilai liberal-progresif yang meminggirkan agama dari ruang publik dan mereduksi kebenaran menjadi opini personal.

Di sinilah Gen Z dibentuk, kritis tetapi tercerabut dari panduan nilai yang tetap. Terbuka, tetapi diarahkan untuk mempertanyakan agama, tradisi, dan otoritas moral, tanpa diberi alternatif ideologis yang kokoh.

Aktivisme Semu

Aktivisme Gen Z sering tampak progresif, tetapi sebenarnya dibatasi oleh sistem. Perlawanan diarahkan agar tidak menyentuh akar masalah, yaitu kapitalisme, ketimpangan struktural, dan dominasi ideologi sekuler.

Pergerakan menjadi pragmatis dan reaktif. Isu dipilih karena viral, bukan karena fundamental. Solidaritas dibangun cepat, tetapi mudah menguap. Validasi sosial menjadi mata uang utama, sementara perjuangan ideologis dianggap ketinggalan zaman.

Baca Juga: Tren Perceraian Keluarga

Inilah aktivisme yang aman bagi sistem, yakni lantang, tetapi tidak mengancam.

Paradigma Rusak

Selama paradigma berpikir Gen Z masih sekuler, setiap perlawanan akan berputar di lingkaran yang sama. Islam memandang bahwa krisis hari ini bukan sekadar krisis mental, tetapi krisis pandangan hidup.

Islam datang bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai ideologi yang mengatur cara berpikir dan bertindak. Ia membebaskan manusia dari ketergantungan pada pengakuan publik dan logika pasar.

Mengubah generasi berarti mengubah paradigma, dari menilai hidup dengan like dan views, menuju menilai hidup dengan halal-haram dan benar-salah.

Arah Perjuangan

Islam tidak menolak aktivisme, tetapi mengarahkannya. Amar makruf nahi mungkar bukan sekadar ekspresi moral, melainkan perjuangan terstruktur untuk mengganti sistem rusak dengan sistem yang adil.

Gen Z harus diarahkan untuk melihat bahwa masalah utama bukan individu yang “kurang sadar”, tetapi sistem sekuler-kapitalistik yang memproduksi ketidakadilan secara masif. Tanpa arah ideologi Islam, energi Gen Z hanya akan habis di ruang digital yang dikendalikan musuhnya sendiri.

Menyelamatkan Gen Z bukan tugas personal. Islam menempatkan tanggung jawab pada keluarga, masyarakat, dan negara. Negara yang membiarkan hegemoni nilai sekuler menguasai ruang digital sejatinya sedang gagal melindungi generasinya.

Tanggung Jawab Kolektif

Menyelamatkan Gen Z dari hegemoni ruang digital sekuler-kapitalistik tidak bisa dibebankan pada individu semata. Menuntut Gen Z agar lebih bijak bermedia sosial tanpa mengubah ekosistemnya adalah bentuk pengalihan tanggung jawab. Dalam Islam, pembinaan generasi adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan tiga pilar utama, yakni keluarga, masyarakat, dan negara.

Pertama, Peran Keluarga.

Keluarga adalah fondasi mendasar dan terpenting. Di tengah derasnya arus digital, rumah seharusnya menjadi ruang paling stabil bagi pembentukan akidah dan cara pandang hidup. Namun realitasnya, banyak keluarga kehilangan fungsi ideologisnya. Orang tua sibuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sementara pendidikan nilai diserahkan sepenuhnya pada sekolah dan gawai.

Islam menempatkan orang tua sebagai pendidik utama. Bukan hanya mengajarkan etika bermedia sosial, tetapi menanamkan paradigma Islam, yaitu bagaimana memandang hidup, tujuan eksistensi, standar benar-salah, serta posisi manusia sebagai hamba Allah, bukan objek algoritma. Tanpa fondasi ini, Gen Z akan mudah menyerap nilai apa pun yang dominan di ruang digital.

Keluarga yang kuat secara ideologis akan melahirkan anak muda yang kritis, bukan reaktif, berani bersuara, tetapi tidak kehilangan arah.

Kedua, Peran Masyarakat.

Jika keluarga adalah fondasi, maka masyarakat adalah lingkungan penguat. Sayangnya, ruang sosial hari ini justru sering memperkuat nilai yang sama dengan media sosial, yakni permisif dan menjauh dari agama. Kritik atas nilai sekuler sering dicap kolot, intoleran, atau tidak relevan.

Padahal, masyarakat dalam Islam memiliki fungsi amar makruf nahi mungkar secara kolektif. Komunitas, lembaga pendidikan, masjid, dan organisasi sosial seharusnya menjadi ruang dialektika yang sehat dan menjadi tempat Gen Z belajar berpikir kritis berbasis Islam, bukan sekadar meniru wacana populer.

Tanpa dukungan masyarakat, Gen Z akan merasa sendirian ketika mencoba melawan arus. Akhirnya, mereka kembali tunduk pada norma dominan yang ditentukan oleh algoritma, bukan nilai kebenaran.

Ketiga, Peran Negara.

Pilar paling menentukan adalah negara. Negara bukan sekadar wasit netral, tetapi penentu arah nilai publik. Ketika negara membiarkan ruang digital dikuasai logika kapitalisme global tanpa filter ideologis, sejatinya negara sedang gagal menjalankan fungsi perlindungan generasi.

Dalam Islam, negara bertanggung jawab menjaga akidah dan akhlak publik. Negara tidak boleh sekadar mendorong literasi digital teknis, tetapi harus memastikan bahwa ruang digital tidak menjadi alat penjajahan budaya dan ideologi. Negara yang abai akan melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, tetapi kosong secara makna.

Sinergi yang Hilang

Masalah terbesar hari ini adalah terputusnya sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga dibiarkan berjuang sendiri. Masyarakat tercerai-berai oleh polarisasi. Negara mengambil posisi netral semu, padahal netralitas dalam ideologi berarti menyerahkan ruang pada ideologi dominan saat ini, yaitu sekuler-kapitalistik.

Islam menawarkan jalan lain melalui kerja kolektif yang sadar arah. Gen Z tidak disalahkan, tetapi dibimbing. Bukan dimusuhi karena kritis, tetapi diarahkan agar kritiknya sampai pada akar masalah.

Jika tanggung jawab kolektif ini dijalankan, Gen Z tidak akan sekadar menjadi generasi yang lantang di media sosial, tetapi generasi yang memahami musuh ideologisnya, tahu arah perjuangannya, dan mampu membawa perubahan yang nyata.

Khatimah

Gen Z bukan generasi lemah. Mereka adalah generasi yang sedang dijajah secara halus. Media sosial bukan sekadar platform, tetapi medan hegemoni ideologis.

Islam tidak memusuhi teknologi, tetapi menolak tunduk pada sistem sekuler-kapitalistik yang mengosongkan makna hidup. Jika Gen Z dibekali paradigma Islam, mereka tidak hanya akan bersuara, tetapi mampu mengguncang sistem yang menindas manusia atas nama kebebasan.

Perjuangan sejati bukan soal viral, tetapi soal keluar dari sistem yang salah dan membangun peradaban yang benar. Wallahu a’lam bishawab.[]

Penulis: Miladiah al-Qibthiyah

Aktivis Muslimah DIY