Fragmentasi Geopolitik Umat di Balik Ekspansi Zionisme

Fragmentasi geopolitik Umat di Balik Ekspansi Zionisme

Catatan.co – OPINI. Fragmentasi Geopolitik Umat di Balik Ekspansi Zionisme.

Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan-perempuan, maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (QS. An-Nisa’: 75)

Kini, doa itu tak menggema dari Makkah, tetapi dari rintih pilu penduduk Syam yang dizalimi secara fisik akibat ambisi Israel Raya yang menginginkan aneksasi dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak. Ambisi ini mencakup keseluruhan wilayah Palestina, Lebanon, Yordania, Semenanjung Sinai di Mesir, Dataran Tinggi Golan dan Damaskus di Suriah, Irak, Arab Saudi bagian utara, Kuwait, hingga sebagian kecil wilayah Turki bagian selatan. Sumber: https://www.thelancet.com/journals/langlo/article/PIIS2214-109X(26)00015-X/fulltext

Ekspansi wilayah Zionisme memiliki beberapa pola perluasan bertahap, di antaranya:

Pertama, pembangunan pemukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat dengan tujuan mengubah demografi dan mempersempit teritorial Palestina secara perlahan.

Kedua, kontrol administratif dan militer dengan cara menguasai jalur logistik, infrastruktur vital, sumber daya air, serta membentuk zona penyangga keamanan di wilayah pendudukannya.

Ketiga, memanfaatkan konflik seperti perang atau ketegangan regional untuk memperluas wilayah secara permanen.

Oportunisme Israel Raya merupakan salah satu penyebab utama ketidakstabilan di wilayah Syam. Klaim Alkitabiah menganggap Syam sebagai jantung dari narasi sejarah dan teologis yang dipakai kelompok Zionis ekstremis untuk merebut hak atas tanah tersebut. Efek domino dari ambisi ini merusak stabilitas politik, keamanan, dan sosial di seluruh kawasan Syam. Perang tak berkesudahan menyebabkan bencana kemanusiaan seperti krisis pengungsian yang sering kali memicu korban jiwa tidak langsung akibat kelaparan ekstrem.

Baca Juga: Islam Solusi Tuntas Pergaulan Bebas

Jalur Gaza sebagai inti konflik Syam mengalami kehancuran infrastruktur paling parah yang mengakibatkan krisis kemanusiaan terbesar abad ini. Terdapat lebih dari 78.000 korban jiwa gugur dan dua juta lebih penduduk mengungsi-atau 90 persen dari total populasi-selama perang dua tahun terakhir. Data tersebut belum termasuk perhitungan warga yang dinyatakan hilang. Beberapa pengamat geopolitik mengartikan situasi ini sebagai pembersihan etnis. Sumber: https://www.theguardian.com/world/2026/feb/19/gaza-death-toll-higher-than-reported-lancet-study

Sebab Syam Sulit Merdeka

Ketika Israel menyerang di tengah gencatan senjata, dunia seolah tak berdaya. Diplomasi multilateral tak sebanding dengan asimetri kehancuran yang sangat timpang antara Israel dan Palestina. Impunitas hukum internasional terjadi karena tidak adanya konsekuensi tegas seperti embargo senjata total atau isolasi ekonomi terhadap Israel. Bahkan blokade wilayah Gaza masih berdiri kokoh membentang dari Beit Hanoun di utara hingga sepanjang wilayah Rafah yang berbatasan dengan Mesir, serta garis pantai Laut Mediterania.

Sementara itu, Resolusi PBB untuk keamanan dunia sekadar retorika kosong. Meski sidang umum PBB menyatakan suara mayoritas mendukung kemerdekaan Palestina, bahkan badan di bawah mereka seperti WHO, UNICEF, UNRWA dan WFP memberi bantuan kemanusiaan, hal itu tak mengurangi kehancuran Palestina maupun kezaliman Israel di negeri Syam yang lain. Pasalnya, Israel mendapatkan perlindungan politik dan militer dari AS yang konsisten dan aktif menggunakan hak vetonya guna mendukung Israel secara penuh. Semua ini menunjukkan bahwa Dewan Keamanan PBB pun dalam sandera politik negara adidaya.

Hal ini diperburuk dengan fragmentasi geopolitik umat Islam yang terbelenggu sekat nasionalisme. Negeri-negeri Muslim di Timur Tengah memprioritaskan stabilitas domestik mereka sendiri di atas isu konflik Syam. Bahkan melalui Abraham Accords, negeri-negeri Muslim yang terlibat di dalamnya menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel demi keuntungan ekonomi, teknologi, dan keamanan regional. Sementara itu, negeri-negeri Muslim di Timur Jauh seperti Indonesia, mengalami guncangan taraf hidup akibat ketergantungan negara mereka pada ekonomi kapitalisme global.

Urgensi Hadirnya Negara Adidaya Islam

Israel dengan bantuan AS telah memegang kendali militer atas sektor-sektor strategis hingga berhasil melemahkan posisi tawar Syam. Ketiadaan keseimbangan kekuatan ini harusnya menjadi dorongan persatuan, bukan ego perpecahan antarsuku, ras, bangsa, bahkan faksi geopolitik seperti Sunni-Syiah. Tanpa kita sadari, secara tidak langsung perpecahan umat Islam juga termasuk penyebab kehancuran Palestina dan kezaliman yang terjadi di wilayah Syam seabad ini. Sebab tanpa adanya persatuan, umat Islam akan terus melemah sehingga mudah dijajah dan diadu domba.

Persatuan tidak akan terwujud tanpa hadirnya cara pandang yang sama tentang kehidupan dunia. Padahal Allah telah menjelaskan kesamaan ini melalui Akidah Islam. Akidah ini bukan sebatas keyakinan teologis, tetapi juga terwujud praktis dengan kehadiran negara Islam global. Kehadiran negara Islam mempersatukan komando politik dan militer negeri-negeri Muslim untuk fokus membebaskan Syam dengan jihad fisabilillah.

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kufur berperang di jalan tagut. Perangilah kawan-kawan setan itu. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.“(QS. An-Nisa’: 76)

Allah memberitahu dalam ayat tersebut bahwa strategi, makar, dan tipu daya setan beserta para pengikutnya sangatlah rapuh. Sehebat apa pun kekuatan materi, teknologi, atau taktik yang mereka miliki akan hancur dan tak berdaya jika berhadapan langsung dengan kekuatan Allah. Namun, Allah perlu menguji seberapa keras kita berusaha bersatu dan seberapa yakin iman kita pada sesuatu yang tak bisa diraba. Jika bukan pada perkataan Allah kita percaya, lalu untuk apa kita ada di dunia? []

Penulis: Ayunin Maslacha

Aktivis Muslimah