Luka Sunyi Generasi Sekuler 

Catatan.co – OPINI. Luka Sunyi Generasi Sekuler. Bayangkan hidup di tengah keramaian kota, di antara ribuan manusia, tetapi hati terasa hampa dan sendiri. Tak ada tempat bersandar, tak ada telinga untuk mendengar keluh kesah. Bukankah ini ironi paling menyayat hati di zaman modern? Begitulah potret kelam generasi hari ini, kesepian di tengah keramaian yang berujung pada keputusasaan.

Fakta mengejutkan, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung fakultasnya pada Kamis (10-9-2026). Dugaan aksi nekat tersebut dipicu oleh tekanan akademik yang berat. Beruntung, nyawanya masih terselamatkan setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Sumber: https://www.kompas.id/artikel/diduga-berniat-bunuh-diri-mahasiswa-kedokteran-universitas-brawijaya-lompat-dari-lantai-6-kampus

Kisah yang lebih pilu datang dari kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia, diduga bunuh diri pada Minggu (6-9-2026) dini hari. Sebelum mengakhiri hidupnya, ia sempat mengunggah pesan perpisahan di media sosial dan bahkan mendonasikan uang sebesar Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental.

Sumber: https://www.kompas.id/artikel/membaca-pesan-dari-pria-yang-mengakhiri-hidup-di-gbk

Kedua peristiwa ini bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Layanan hotline pencegahan bunuh diri dari Kemenkes, Healing 119, mencatat tingginya jumlah pengakses. Selain itu, pengakses layanan pun banyak yang berasal dari kelompok usia muda mulai dari usia 8 tahun. Adapun keluhan yang banyak disampaikan adalah kesepian, puncaknya pada remaja usia 12 hingga 14 tahun. Bahkan, dalam satu shift jumlah pengakses bisa mencapai 500 hingga 600 orang.

Sumber: https://health.detik.com/detiktv/d-8656191/video-pengakses-healing-119-capai-600-per-shift-ada-anak-usia-8-10-tahun/amp

Fakta ini menjadi alarm keras bahwa krisis kesehatan mental paling banyak menghantam generasi muda, generasi yang digadang-gadang sebagai penerus peradaban.

Rapuhnya Generasi Sekuler

Fenomena bunuh diri di kalangan anak muda sejatinya bukan sekadar masalah psikologis individual, melainkan cermin retaknya bangunan peradaban sekuler. Sekularisme secara sistematis telah mencabut akidah dari kehidupan. Agama hanya ditempatkan di pojok masjid, tidak boleh mengatur ruang publik, sekolah, kampus, hingga negara. Alhasil, generasi tumbuh tanpa pegangan transenden. Ketika tekanan hidup datang, mereka tidak memiliki jangkar maknawi untuk bertahan.

Baca Juga: Mewujudkan Ekosistem Halal

Di saat yang sama, kapitalisme menyuburkan virus individualisme yang mematikan. Sistem ini mengajarkan bahwa sukses adalah urusan pribadi, bahagia adalah pencapaian individual. Budaya positivity yang toksik, flexing kesuksesan, dan kompetisi tanpa henti di media sosial memaksa setiap orang berjuang sendirian. Manusia menjadi asosial, tetangga tak saling sapa, keluarga sibuk dengan dunianya masing-masing. Wajar, jika kesepian merajalela bahkan di tengah orang yang materi dan prestasinya melimpah.

Lebih dalam lagi, kerapuhan ini adalah buah dari negara yang secara sadar menerapkan sekularisme-kapitalisme. Melalui sistem pendidikan sekuler, anak didik diajarkan mengejar nilai dan gelar, bukan dibina kesadaran akan tujuan penciptaan. Kurikulumnya hampa dari pembentukan kepribadian Islam. Di sisi lain, sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan negara melahirkan kesenjangan dan tekanan hidup yang luar biasa. Lapangan kerja sempit, biaya hidup mencekik, sementara negara abai menjamin kesejahteraan. Negara inilah yang mencetak individu yang rapuh dan masyarakat yang tercerai-berai.

Islam Penawar Kehampaan Jiwa

Islam datang dengan solusi yang sangat fundamental, bukan sekadar tambal sulam. Sebagai penawar, Islam memiliki solusi.

Pertama, Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Seorang Muslim ditanamkan keyakinan kokoh bahwa hidup ini adalah ujian, dan Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kesanggupannya. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 286,

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Islam melarang bunuh diri, Imam Nawawi melalui Syarah Riyadhus Shalihin melampirkan riwayat dari Abu Zaid Tsabit bin Adh-Dhahhak Al-Anshari, di mana Nabi saw. bersabda, “Barang siapa membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada hari kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu.”(Muttafaq Alaih)

Keyakinan bahwa sabar atas ujian berbuah pahala, dan bahwa bunuh diri adalah dosa besar yang diharamkan, menjadi rem paling kuat dari keputusasaan.

Kedua, Islam membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat atas dasar akidah yang sama. Islam memerintahkan untuk saling menasihati, saling memikul beban, dan menjadikan kaum Muslim bagaikan satu tubuh. Rasulullah saw. bersabda:

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan ikatan ini, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidup sendirian dan merasa kesepian. Ukhuah atau persaudaraan dalam Islam sangat terasa, karena umat Islam diibaratkan bagai satu tubuh.

Ketiga, negara Islam adalah institusi yang menerapkan sistem Islam secara kaffah untuk menjaga kokohnya individu dan masyarakat. Negara Islam menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Tujuannya bukan sekadar mencetak pekerja, tetapi membentuk syakhsiyah Islamiyah yang berkepribadian kuat, memahami untuk apa hidup dan kepada siapa akan kembali. Pendidikan seperti inilah yang melahirkan generasi yang tangguh menghadapi badai kehidupan.

Keempat, Negara Islam menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan setiap individu. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan dasar pokok, menyediakan lapangan kerja, mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, bukan korporasi. Dengan jaminan ini, tekanan hidup yang menjadi pemicu stres dan depresi dapat diminimalisasi. Masyarakat tidak dibiarkan berjuang sendiri dalam sistem yang predatorik.

Kelima, Negara Islam juga menerapkan sistem pergaulan dan kontrol sosial yang sehat. Negara menjaga suasana keimanan di tengah masyarakat, memerintahkan amar makruf nahi mungkar, dan menyediakan layanan kesehatan termasuk kesehatan mental yang berbasis pada pemahaman Islam yang komprehensif. Inilah ekosistem yang melahirkan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan kesepian di tengah gemerlap dunia sekuler.

Khatimah

Generasi yang kesepian dan mengakhiri hidupnya adalah buah busuk dari sistem sekuler-kapitalisme yang diterapkan. Selama negara masih mempertahankan akidah sekuler dan ekonomi kapitalistik, maka selama itu pula kita akan terus memanen generasi yang rapuh. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam kaffah yang akan mengembalikan makna hidup, merajut kembali ikatan masyarakat, dan menghadirkan negara yang benar-benar menjadi raa’in dan junnah bagi rakyatnya. Allahua’lam Bishawab. []

Penulis: Sherly Agustina, M.Ag.

Pemerhati Kebijakan Publik