Catatan.co – OPINI. Pengikisan Zaitun di Palestina. Penderitaan warga Palestina belum berakhir. Semakin hari mereka semakin diserang dari berbagai lini kehidupan. Kondisi perekonomian pun tidak dibiarkan aman oleh Israel.
Penyerangan terhadap pertanian zaitun yang dilakukan Israel menjadi buktinya. Di mana pohon zaitun yang merupakan simbol identitas lokal Palestina yang juga menjadi sumber bergantungnya perekonomian 90.000 lebih warga Palestina. Pohon ini juga termasuk sektor yang menyumbang 8 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) dan lebih dari 60.000 lapangan pekerjaan.
Bulan Oktober dan November seharusnya menjadi bulan suka cita karena menyambut ratusan pohon zaitun yang siap panen. Namun, suka cita itu berubah menjadi duka yang mendalam. Buldoser Israel secara sadis meratakan sekitar 31 ribu meter persegi lahan milik petani hingga ke akar pohon dan tak tersisa.
(https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260928052613-120-1408855/jelang-panen-ratusan-pohon-zaitun-petani-palestina-dibuldoser-israel)
Serangan Brutal
Bukan lahan pertanian saja yang menjadi korban, tetapi para pemukim Israel pun secara brutal menyerang para pemetik zaitun dan seorang jurnalis, aktivis, serta politikus dalam dan luar negeri. Puluhan pukulan, lemparan batu hingga menembakkan peluru tajam dan gas air mata ke arah warga Palestina. Jurnalis veteran Heidi Levine (64) yang bekerja untuk The Washington Post dilarikan ke rumah sakit setelah diserang dan seorang Palestina juga ditambak bagian paha oleh tentara Israel serta masih banyak korban lainnya.
(https://www.aljazeera.com/amp/news/2026/10/16/palestinians-us-journalist-attacked-in-west-bank-pogrom-what-we-know)
European Union mengecam keras serangan keras terhadap para diplomatnya dan para petani zaitun. Namun, tidak diikuti dengan tindakan apa pun, seperti kecaman-kecaman sebelumnya. Walaupun Israel sudah membunuh lebih dari 72.000 warga Palestina dalam dua tahun terakhir. Puluhan ribu orang terluka, termasuk di antaranya anak-anak dan perempuan. Tidak ada langkah konkret yang bisa menghentikan genosida di Palestina hingga sekarang.
(https://www.trtindonesia.com/article/6c06d6209082)
Begitu kuatnya tujuan Israel untuk mengusir warga Palestina. Salah satunya dengan merusak ekonomi dan akar budaya rakyat di Palestina, sehingga memaksa mereka untuk pergi dari tanah Palestina. Bahkan, dengan menyerang jurnalis dan aktivis yang membersamai para petani saat panen, sehingga kekejaman Israel tidak terekspos kepada dunia.
Sekat Nasionalisme
Walaupun kebrutalan Israel kepada Palestina banyak mengundang kebencian warga dunia kepada Israel, tetap saja tidak ada perubahan berarti terkait kondisi Palestina. Para penguasa Muslim terutama negara-negara Arab hanya berdiam diri, bahkan menjadi kaki tangan Israel dan Amerika Selatan.
Baca Juga: Ketika Asap Merenggut Kesehatan.
Sekat nasionalisme menjadikan negara-negara terpecah belah. Mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing di dalam negerinya saja. Seolah penderitaan yang dirasakan warga Palestina hanya urusan Muslim Palestina saja. Padahal, sudah jelas sabda Rasulullah saw. bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh, jika salah satunya sakit maka tubuh bagian lain akan merasakan sakit yang sama.
Perspektif Islam
Palestina sendiri merupakan tanah kaum muslimin dan memiliki posisi istimewa dalam Islam yang harus dipertahankan. Khalifah Umar bin Khattablah yang membebaskan Palestina dan Yerusalem (Baitul Maqdis) dari kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Rasulullah saw. pun menjadikan Baitul Maqdis (Palestina) sebagai kiblat umat Islam selama belasan tahun sebelum dipindahkan ke Kabah di Makkah. Salat di dalamnya juga memiliki keutamaan pahala yang besar.
Pada saat kepemimpinan Khalifah Sultan Abdul Hamid II juga secara tegas menolak menyerahkan tanah Palestina. Karena tanah Palestina adalah tanah suci milik kaum muslimin.
Kondisi Palestina saat ini sudah sangat jelas. Kaum muslimin tidak bisa menggantungkan nasibnya pada pembelaan siapa pun kecuali pada dirinya sendiri, yakni dengan hadirnya kesatuan umat yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunah. Rasulullah saw. bersabda, “Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi)
Satu-satunya cara untuk menghentikan kezaliman Israel, Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya adalah dengan mengirimkan tentara-tentara kaum muslimin di bawah komando seorang Khalifah dalam sistem negara Islam. Saatnya seluruh kaum muslimin menyadari betapa urgennya kepemimpinan umat Islam. Di mana umat Islam akan hidup damai dan sejahtera dalam naungan sistem Islam. Sebagaimana Rasulullah diutus oleh Allah untuk membawa rahmat (Islam) bagi seluruh alam.
Wallahu ‘alam bishawab.[]
Penulis: Risma Aprilia
Aktivis Muslimah




