Kasus Raya, Cermin Lemahnya Perlindungan Negara

Kasus Raya, Cermin Lemahnya Perlindungan Negara

Catatan.co – Kasus Raya, Cermin Lemahnya Perlindungan Negara. Miris, itulah kondisi negeri ini. Nyawa seolah tak berharga di negeri ini. Puluhan jiwa melayang akibat lalainya pemimpin negeri.

Negeri kaya tetapi rakyatnya mengais rezeki di lumbung padi. Kemiskinan menjangkiti negeri ini. Akibatnya, rakyat tak dapat menjangkau layanan kesehatan yang memadai.

Terdengar kabar seorang balita tergolek di rumah sakit. Tubuh mungil itu kini tak sadarkan diri. Dibantu dengan alat bantu pernapasan. Inilah potret bisu ketidakadilan yang sering kita lihat, tetapi tidak serius ditanggapi.

Kini Raya telah pergi. Namun, kisahnya seharusnya menjadi momentum introspeksi dan perubahan dari semua pihak. Raya adalah balita berumur 4 tahun di Kampung Pandangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Raya meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya dipenuhi dengan cacing bahkan hingga ke organ vital seperti otak.

Kronologi tubuh Raya dipenuhi cacing berawal dari orang tuanya yang mengidap gangguan jiwa (ODGJ). Saat di rawat di ICU RSUD R Syamsudin, keluar cacing dari mulut dan hidungnya. Raya ditemukan dalam kondisi kritis oleh tim relawan pada tanggal 13 juli 2025 dan langsung di bawa ke rumah sakit. Hasil CT Scan memperlihatkan cacing sudah menyebar ke otak. Setelah di rawat selama 9 hari, Raya meninggal dunia pada tanggal 22 Juli 2025. (https://www.tribunnews.com/regional/2025/08/21/balita-meninggal-di-sukabumi-akibat-cacingan-menteri-pppa-sangat-memilukan-penderitaannya)

Masyarakat Individualisme

Kasus Raya ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Salah satunya adalah masyarakat sekitar tempat tinggal Raya. Masyarakat yang tidak peduli dengan kondisi sekitar membuat kejadian Raya terulang.

Masyarakat sibuk dengan urusannya sendiri sehingga tidak tahu dengan kondisi tetangganya. Inilah cerminan masyarakat di sistem kapitalisme yakni individualisme. Mereka hanya memikirkan urusannya sendiri tak peduli dengan kondisi sekitar.

Hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Kita tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Buruknya Pelayanan Kesehatan

Kasus Raya menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan di negeri ini belum mampu memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyatnya, termasuk anak-anak. Mekanisme layanan kesehatan yang ada masih sebatas formalitas, prosedur yang rumit membuat layanan tidak bisa diakses oleh setiap orang. Layanan kesehatan yang disediakan oleh negara belum mampu menjangkau rakyat di pedesaan.

Hal ini diperparah dengan kondisi yang jauh dari kota. Sedangkan layanan kesehatan hanya dijangkau di kota-kota besar saja.

Kasus Raya ini menjadi pelajaran bahwa pemerintah harus lebih serius dalam memikirkan layanan kesehatan di pedesaan. Hal ini bertujuan agar akses kesehatan bisa dijangkau oleh seluruh rakyat, baik di kota maupun di desa. Pelayanan kesehatan yang tidak optimal menunjukkan abainya negara dalam memberikan perlindungan bagi rakyat miskin dan lemah. Mereka dibiarkan hidup dalam kondisi sulit dan lingkungan yang tidak sehat.

Buah Kapitalisme

Kondisi buruk ini merupakan dampak penerapan sistem kapitalisme. Layanan Kesehatan dalam sistem kapitalisme diperjualbelikan layaknya barang dagangan, kapitalisasi kesehatan. Layanan kesehatan hanya bisa diakses bagi mereka yang punya uang. Mereka yang punya privilege yang bisa mendapatkan akses kesehatan dengan layak. Sedangkan rakyat kecil dibiarkan tetap sengsara tanpa ada rasa peduli terhadap nasib mereka.

Jelas sistem kapitalisme saat ini telah gagal dalam pengurusan layanan kesehatan di masyarakat. Kasus Raya adalah cerminan lemahnya perlindungan negara terhadap rakyat. Hari ini rakyat butuh bukti nyata bagaimana negara mengurus rakyatnya.

Baca Juga: Tragedi RSUD Rasidin

Hal ini hanya bisa dipenuhi dalam sistem Islam. Dalam sistem Islam layanan kesehatan tidak dikapitalisasi. Namun, layanan kesehatan adalah pelayanan negara yang wajib dipenuhi untuk rakyat.

Sistem Islam Menjamin Kesehatan Berkualitas

Imam adalah raa’in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”(HR. Bukhari)

Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai orang-orang yang akan berperang di belakangnya, mendukung dan berlindung dari musuh dengan kekuasaannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

Kedua hadis di atas menyadarkan kita bahwa standar kepemimpinan harus disandarkan kepada Islam. Sosok pemimpin dalam Islam adalah pengurus yang bertanggung jawab atas rakyatnya.

Islam menjadikan kesehatan dengan kualitas terbaik berada dalam tanggung jawab negara. Setiap rakyat baik kaya maupun miskin berhak mendapatkan kesehatan yang layak. Kesehatan adalah kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi oleh negara untuk rakyatnya.

Dalam sistem Islam ada dua kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi oleh negara. Dua kebutuhan pokok tersebut adalah kebutuhan pokok berupa barang (sandang, pangan, dan papan) serta kebutuhan pokok berupa jasa (pendidikan, kesehatan, dan keamanan). Kebutuhan pokok berupa barang dipenuhi oleh negara secara bertahap. Sedangkan kebutuhan pokok berupa jasa termasuk didalamnya layanan kesehatan, harus dipenuhi negara secara langsung kepada setiap individu rakyat.

Hal ini karena pemenuhan kebutuhan pokok berupa jasa termasuk masalah pelayanan umum (ri’ayatu asy syu-uun) dan kemaslahatan hidup terpenting. Sistem Islam sangat memperhatikan pelayanan kesehatan masyarakat. Kesehatan dalam sistem Islam adalah kebutuhan dasar yang harus dirasakan oleh setiap manusia.

Negara wajib menjamin kebutuhan kesehatan bagi setiap warga negaranya. Biaya pendidikan diambil dari kas negara. Kas negara diperoleh dari pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang hasilnya disalurkan berupa kesehatan untuk rakyat. Dengan biaya yang mencukupi negara mampu memberikan pelayanan gratis untuk semua warganya, baik kaya maupun miskin. Selain itu, dengan biaya yang mencukupi negara mampu memberikan fasilitas kesehatan yang berkualitas.

Pengurusan negara terhadap rakyat dalam kesehatan didukung kondisi sosial masyarakat yang kondusif. Kondisi sosial masyarakat sangat terjaga dalam sistem Islam. Kepedulian di antara masyarakat akan terbangun sehingga seorang muslim tidak akan membiarkan tetangga atau saudaranya berada dalam kesulitan.

Mereka akan bersegera menolong. Mereka akan membantu warga yang kesulitan dalam hal apapun tanpa pandang bulu. Hal ini karena ikatan dalam masyarakat Islam sangat kuat yang lahir atau dibangun dari akidah Islam.

Begitulah cara sistem Islam dalam menyejahterakan rakyat dalam layanan kesehatan. Pelayanan kesehatan secara gratis sehingga seluruh masyarakat baik kaya maupun miskin dapat merasakannya. Masyarakat tak perlu memikirkan lagi biaya kesehatan.

Wallahu a’lam bishawab. []

Penulis: Lia Ummu Thoriq

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)