Catatan.co – E-Sport Pelajar, Prestasi atau Ilusi? Di tengah dinamika dunia pendidikan yang kian kompleks, geliat e-sport di kalangan pelajar muncul sebagai fenomena yang tak bisa diabaikan. Kelompok-kelompok kecil mulai terbentuk secara alami di berbagai sekolah, salah satunya di SMA Negeri 5 Balikpapan. Tim Mobile Legends dari sekolah ini telah terkenal lebih dari satu tahun dan tampil percaya diri dalam berbagai turnamen lokal.
Walaupun tidak menjalani rencana matang menjelang turnamen terbaru, mereka tetap menggantungkan kekompakan dan jam terbang sebagai senjata utama. Tim ini beranggotakan siswa dari kelas 10 hingga kelas 12. Keputusan mereka fokus pada cabang Mobile Legends bukan tanpa alasan. “Kenapa kami memilih Mobile Legends? Karena kami cukup sering main dan juga sudah beberapa kali ikut kompetisi. Kalau dijumlah mungkin sekitar enam atau tujuh kali, yang jelas lebih dari lima kali,” ujar Andi Muhammad Alfian Pakih, salah satu anggota tim.
Modal utama mereka adalah kekompakan dan semangat bertanding, meski fasilitas dan dukungan formal dari sekolah masih minim. Fenomena ini menjadi cermin pertumbuhan komunitas e-sport pelajar di Balikpapan yang cenderung berkembang secara mandiri dan kolektif. Para pelajar berharap, dengan makin seringnya turnamen digelar, akan ada perhatian lebih dari sekolah maupun pemerintah kota untuk mendukung jalur prestasi mereka di dunia digital ini.
(https://www.inibalikpapan.com/tumbuh-dari-sekolah-tim-e-sport-pelajar-sman-5-balikpapan-kian-solid/)
E-Sport, Apakah Kemajuan?
Dibalik majunya geliat e-sport di kalangan pelajar, ada satu pertanyaan besar yang perlu diajukan. Benarkah kemajuan ini layak disebut sebagai bentuk kemajuan dunia pendidikan? Apakah semangat berprestasi para pelajar ini benar-benar tumbuh dalam ekosistem pendidikan yang membangun potensi sejati mereka, atau malah terseret arus tren industri digital yang makin hari makin menjebak generasi muda dalam hiburan semu?
Fenomena e-sport ini seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai kemajuan, tetapi juga dikritisi secara mendalam. Sebab, arah dan standar keberhasilan yang ditanamkan dalam sistem pendidikan hari ini tampak lebih menekankan pada pencapaian popularitas dan materi semata, bukan pada pembentukan karakter, intelektualitas, maupun kontribusi nyata bagi peradaban. Di sinilah kita perlu menelusuri akar permasalahan dari sudut pandang sistemis.
Prestasi atau Ilusi?
Fenomena e-sport sejatinya tak bisa dilepaskan dari wajah sistem pendidikan hari ini yang berpijak pada asas sekularisme. Sistem ini telah meminggirkan agama dari pengaturan kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Sehingga arah pembinaan generasi pun menjadi kabur. Generasi bukan lagi diarahkan untuk menjadi pemimpin peradaban, melainkan justru diseret untuk mengejar eksistensi semu yang berbalut prestasi materialistik.
Prestasi materialistik di sini dimaksudkan kepada generasi yang banyak di antara mereka berlomba-lomba untuk melakukan pencapaian yang dinilai hanya dari sisi materi atau keuntungan duniawi. Pencapaian tersebut semisal uang, popularitas, atau hadiah, tanpa mengukur apakah hal itu memberikan nilai moral, manfaat hakiki, atau kontribusi positif bagi umat dan peradaban.
Memang, standar keberhasilan dalam sistem sekuler cenderung diukur dari materi dan bukan dari keridaan Allah atau kontribusi untuk Islam.
Begitupun dampak asas sekuler dalam dunia pendidikan, pemudanya pun justru makin hari makin tidak mengenali identitasnya sebagai seorang muslim. Buktinya, banyak kasus kriminal seperti tawuran, gaul bebas, pelecehan dan penyimpangan seksual, narkoba, bunuh diri, dsb. sebagian besar pelakunya masih berusia 15-30 tahun. Itu artinya, kerusakan moral telah menjangkiti pemuda.
Dengan fakta kerusakan moral yang menimpa pemuda di atas, cukupkah potensi mereka hanya dimanfaatkan untuk bermain game online? Pada kenyataannya, jika pemuda hanya disibukkan dengan bermain gim, maka potensi besarnya tentu akan terbajak dan mengikis kemampuan sikap kritis mereka.
Industri gim dalam sistem kapitalisme adalah salah satu ladang bisnis raksasa yang tujuannya bukan mendidik atau membina generasi, tetapi menghasilkan keuntungan sebesar-sebesarnya, tanpa peduli akibatnya terhadap akhlak atau masa depan umat.
Pertama, gim dirancang untuk membuat pemainnya menjadi kecanduan. Banyak gim dibuat dengan fitur-fitur yang memicu ketagihan semisal skor, reward, level up, skin, dan sistem kompetisi tanpa akhir. Ini disengaja agar pemain terus bermain dan menghabiskan waktu serta uang, yang akhirnya menguntungkan developer dan investor,
Kedua, monetisasi dan eksploitasi pemain. Sistem kapitalisme mendorong monetisasi gim seperti iklan, pembelian item, battle pass, dll. Anak-anak dan remaja menjadi sasaran empuk industri ini, padahal mereka belum matang secara finansial maupun mental.
Ketiga, penyebaran konten negatif. Tidak sedikit gim yang mengandung unsur kekerasan, pornografi, kebebasan tanpa batas, hingga unsur sihir dan tahayul. Semua itu dibiarkan demi mengejar pasar seluas-luasnya. Bahkan beberapa gim menyisipkan ideologi Barat, normalisasi LGBT, hingga penghinaan agama.
Keempat, menyesatkan potensi generasi. Alih-alih diarahkan untuk menjadi ilmuwan, mujahid, atau pemimpin perubahan, banyak anak muda yang justru terjebak jadi konsumen gim. Mereka mungkin terlihat “berprestasi” di dunia gim, tetapi secara kontribusi untuk umat, mereka nihil.
Dengan demikian, industri gim dalam sistem kapitalisme memang bukan untuk membina, tetapi untuk mengeruk untung, meski harus mengorbankan karakter dan masa depan generasi. Seharusnya, potensi besar yang dimiliki generasi muda diarahkan untuk hal-hal mendasar dalam membangun peradaban, seperti penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, kepemimpinan, dan kontribusi sosial yang nyata. Namun dalam realitas hari ini, arah itu justru menyimpang.
Banyak pemuda yang diarahkan untuk mengejar eksistensi semu, kepuasan sesaat, atau prestasi yang dangkal seperti menjadi juara dalam gim, viral di media sosial, atau dikenal sebagai selebriti digital. Alhasil, potensi berpikir kritis, kreativitas, dan semangat juang mereka tidak terasah secara maksimal untuk tujuan substansial.
Sistem pendidikan sekuler dan budaya populer yang hedonistik turut menyempitkan definisi prestasi, seolah hanya sebatas materi, ketenaran, dan hiburan.
Penyimpangan ini makin diperparah dengan kurangnya dukungan untuk pembinaan karakter dan intelektual utuh. Sehingga generasi muda lebih diarahkan sebagai target pasar industri hiburan ketimbang sebagai agen perubahan yang sesungguhnya.
Islam Mencetak Generasi Pemimpin Perubahan
Islam memiliki tujuan yang jelas dalam mencetak generasi pemimpin perubahan. Pemuda, apalagi pelajar, dianggap sebagai aset berharga yang harus dibina agar menjadi tulang punggung peradaban Islam.
Dalam sistem Islam, potensi pelajar tidak dibiarkan tumbuh liar atau diarahkan untuk mengejar popularitas dan materi semata. Pelajar akan dibina dengan sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam dan bertujuan melahirkan sosok cerdas, berakhlak mulis, serta siap menanggung tanggung jawab dakwah dan perbaikan umat.
Dalam memandang gim, Islam membolehkan permainan atau hiburan yang sifatnya mubah, selama tidak membawa pada kemaksiatan, tidak mengandung unsur syirik, kekerasan, pornografi, atau membuat lalai dari kewajiban utama. Oleh karenanya, sistem Islam akan memfilter dan membatasi hiburan yang beredar di tengah masyarakat, bukan berdasarkan selera pasar seperti dalam sistem sekuler, tetapi berdasakan nilai halal-haram yang menjaga kehormatan generasi.
Buktinya, Rasulullah mengajarkan agar umatnya melatih aktivitas fisik untuk kesehatan dan keterampilan hidup seperti berenang, memanah, dan menunggang kuda (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa Islam mengarahkan aktivitas rekreatif untuk membentuk ketangguhan, bukan sekadar kesenangan semata. Berbeda dengan gim digital yang sering tidak membawa manfaat jasmani dan justru menumbuhkan ketagihan, lalai dari kewajiban, bahkan mengandung konten merusak akhlak.
Dalam sejarah, sistem pendidikan Islam telah terbukti melahirkan para pemuda hebat seperti Muhammad Al-Fatih, Imam Syafi’I hingga Ibnu Sina. Mereka bukan hanya pakar di bidangnya, tetapi juga pemimpin, ulama, dan pelayan umat. Sistem pendidikan Islam tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga spiritual, sosial, dan kepemimpinan, sehingga generasi yang lahir dari sistem ini memiliki standar kemuliaan hidup berdasarkan rida Allah. Potensi mereka diarahkan hanya untuk kemuliaan Islam dan kemaslahatan umat.
Demikianlah solusi Islam yang menyeluruh dan menawarkan arah yang jelas bagi pendidikan dan pemuda. Bukan hanya sebagai penerus peradaban, tetapi juga sebagai pemimpin perubahan yang berdasarkan takwa. Sudah saatnya wahai umat Islam, mari menimbang ulang arah pendidikan hari ini yang bersifat konsumtif, materialistik, dan menjauhkan pemuda dari tujuan hidup yang hakiki, menuju perubahan total ke arah sistem Islam yang membawa kemuliaan bagi generasi, umat, dan seluruh dunia.
Wallahu ‘alam bisshawab. []
Penulis: Hanifah Tarisa Budiyanti S. Ag (Aktivis Muslimah)




