Catatan.co – Opini. Generasi Berkualitas Butuh Peran Sistemis. Generasi berkualitas merupakan aset paling berharga bagi sebuah bangsa. Mereka adalah penerus peradaban yang akan menentukan arah masa depan masyarakat dan negara. Karena itu, berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk membentuk generasi yang unggul, salah satunya melalui Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang diperkuat oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Provinsi Kalimantan Timur.
Program ini bertujuan mengurangi fenomena fatherless, yaitu kondisi anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah secara optimal akibat kesibukan bekerja, perceraian, maupun faktor lainnya. Melalui pendampingan keluarga, penguatan kapasitas orang tua, serta sinergi dengan berbagai pihak, program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengasuhan dan membentuk generasi yang lebih baik. Sumber:
https://kaltim.antaranews.com/berita/262795/kemendukbangga-bkkbn-kaltim-perkuat-program-gati-wujudkan-generasi-berkualitas
Langkah tersebut tentu patut diapresiasi sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi keluarga Indonesia. Namun, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: apakah program semacam ini cukup untuk menyelesaikan persoalan generasi yang semakin kompleks? Ataukah fenomena fatherless hanyalah salah satu gejala dari problem yang lebih besar dan bersifat sistemik?
Fatherless: Fenomena Gunung Es
Fenomena fatherless bukan sekadar persoalan absennya figur ayah secara fisik di rumah. Lebih dari itu, kondisi ini menunjukkan hilangnya fungsi ayah sebagai pemimpin, pelindung, pendidik, dan pembimbing keluarga. Akibatnya, anak kehilangan figur teladan yang berperan penting dalam pembentukan kepribadian dan karakternya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah berisiko mengalami berbagai masalah, seperti rendahnya kepercayaan diri, gangguan emosional, kesulitan membangun relasi sosial, hingga meningkatnya potensi terjerumus dalam perilaku menyimpang. Tidak sedikit kasus kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, kekerasan, hingga krisis identitas yang berakar pada rapuhnya institusi keluarga.
Sayangnya, fenomena fatherless yang kian meluas sering kali dipahami hanya sebagai masalah individu atau keluarga. Padahal, persoalan ini sesungguhnya memiliki akar struktural yang berkaitan erat dengan sistem kehidupan yang diterapkan saat ini.
Kapitalisme Sekuler Melahirkan Krisis Keluarga
Tidak dapat dimungkiri bahwa berbagai problem generasi yang terjadi hari ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme sekuler. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan sekaligus menjadikan materi sebagai tolok ukur utama keberhasilan.
Dalam sistem kapitalisme, laki-laki dituntut bekerja keras demi memenuhi kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. Tingginya biaya hidup, mahalnya pendidikan, layanan kesehatan yang berorientasi bisnis, hingga ketidakstabilan ekonomi memaksa banyak ayah menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah. Akibatnya, interaksi dengan anak dan keluarga menjadi sangat terbatas.
Di sisi lain, perempuan juga didorong untuk masuk ke pasar kerja demi menopang kebutuhan rumah tangga. Akibatnya, muncul fenomena yang bukan hanya fatherless, tetapi juga motherless. Anak-anak tumbuh dengan minim pendampingan orang tua karena keduanya tersita oleh tuntutan ekonomi.
Kondisi ini diperparah oleh budaya individualisme yang menjadi ciri khas masyarakat kapitalistik. Hubungan kekeluargaan menjadi longgar, interaksi sosial semakin renggang, dan fungsi masyarakat sebagai penjaga moral generasi ikut melemah.
Baca Juga: Ujian Hidup Mengajarkanku
Oleh karena itu, fenomena fatherless sejatinya bukan sekadar akibat kurangnya kesadaran ayah, melainkan buah dari sistem kehidupan yang menjauhkan manusia dari fitrah dan peran-peran yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.
Generasi Berkualitas Membutuhkan Supporting System yang Berkualitas
Mewujudkan generasi unggul tidak cukup hanya dengan program-program parsial yang berfokus pada perubahan perilaku individu. Generasi lahir dan tumbuh dalam sebuah ekosistem kehidupan yang memengaruhi seluruh aspek perkembangannya.
Seorang anak tidak hanya dipengaruhi oleh ayah dan ibunya. Ia juga dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan, media, budaya masyarakat, kondisi ekonomi, hingga kebijakan negara.
Ketika sistem pendidikan gagal membangun kepribadian yang benar, ketika media terus menyuguhkan konten yang merusak moral, ketika pergaulan bebas semakin marak, dan ketika negara gagal memberikan perlindungan terhadap keluarga, maka pembentukan generasi berkualitas menjadi sangat sulit diwujudkan.
Karena itu, kualitas generasi sangat bergantung pada kualitas sistem yang mengelilinginya. Keluarga yang baik membutuhkan masyarakat yang baik, dan masyarakat yang baik membutuhkan negara yang menjalankan kebijakan yang benar.
Islam Melejitkan Peran Ayah dan Menguatkan Ketahanan Keluarga
Islam sebagai ideologi yang berasal dari Allah Swt. memiliki konsep yang komprehensif dalam membangun keluarga dan generasi. Islam tidak hanya mengatur hubungan individu dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur kehidupan keluarga, masyarakat, hingga negara.
Dalam Islam, ayah memiliki kedudukan yang sangat mulia sekaligus tanggung jawab yang besar. Ia adalah pemimpin keluarga yang wajib memberikan nafkah, perlindungan, pendidikan, dan pembinaan kepada anggota keluarganya.
Allah Swt. berfirman:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS An-Nisa: 34)
Ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan ayah bukan sekadar hak, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Rasulullah saw. juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa seorang ayah akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan dan pembinaan keluarganya di hadapan Allah Swt.
Islam juga memerintahkan setiap kepala keluarga untuk menjaga anggota keluarganya dari berbagai bentuk kerusakan.
Allah Swt. berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia, dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS At-Tahrim: 6)
Karena itu, peran ayah dalam Islam bukan hanya pencari nafkah, melainkan juga pendidik yang menanamkan akidah, syariat, dan akhlak Islam kepada anak-anaknya.
Peran Ibu sebagai Mitra Strategis Ayah
Selain menguatkan peran ayah, Islam juga memuliakan peran ibu sebagai pengatur rumah tangga dan pendidik generasi. Islam memandang ayah dan ibu sebagai satu tim yang saling melengkapi dalam menjalankan amanah pendidikan anak.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati anak ibarat permata yang masih bersih dan siap menerima berbagai bentuk pendidikan. Oleh karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk membentuknya sesuai tuntunan syariat.
Peran ibu yang dekat dengan anak akan berjalan optimal ketika didukung oleh kepemimpinan ayah yang kuat. Sebaliknya, kepemimpinan ayah juga akan efektif ketika mendapat dukungan dari istri yang salehah. Inilah sinergi keluarga yang dibangun Islam.
Negara Islam Menjadi Penjaga Ketahanan Keluarga
Islam tidak membebankan tanggung jawab pembentukan generasi hanya kepada orang tua. Negara juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya generasi unggul.
Negara wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat sehingga seorang ayah dapat menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan baik tanpa terbebani tekanan ekonomi yang berlebihan.
Negara juga wajib menyediakan pendidikan berkualitas berbasis akidah Islam, menjaga media dari konten yang merusak moral, menutup pintu pergaulan bebas, serta menciptakan sistem sosial yang kondusif bagi tumbuhnya keluarga yang kokoh.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa kualitas masyarakat sangat dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang mengaturnya. Ketika sistem yang diterapkan baik, masyarakat akan tumbuh baik. Sebaliknya, kerusakan sistem akan melahirkan kerusakan sosial yang meluas.
Dalam sejarah panjang peradaban Islam, lahir banyak tokoh besar seperti Imam Syafi’i, Imam Malik, Muhammad Al-Fatih, Salahuddin Al-Ayyubi, dan para ulama lainnya. Mereka lahir bukan hanya karena keluarga yang baik, tetapi juga karena dukungan masyarakat dan negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh.
Mewujudkan Generasi Pelopor Perubahan
Generasi berkualitas tidak lahir secara instan. Mereka dibentuk oleh keluarga yang kuat, masyarakat yang peduli, serta negara yang menjalankan kebijakan sesuai syariat Allah Swt.
Program-program seperti GATI mungkin dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran pentingnya peran ayah. Namun, selama akar persoalan berupa sistem kapitalisme sekuler tetap dipertahankan, berbagai problem generasi akan terus bermunculan dalam bentuk yang berbeda.
Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar dan menyeluruh. Islam menjaga peran ayah sebagai pemimpin keluarga, menguatkan posisi ibu sebagai pendidik generasi, melibatkan masyarakat dalam amar makruf nahi mungkar, serta menghadirkan negara sebagai pelindung dan penjamin kesejahteraan rakyat.
Dengan penerapan Islam secara kaffah, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh akidahnya, mulia akhlaknya, kuat kepribadiannya, serta siap menjadi pelopor perubahan dan penerus risalah Islam.
Khatimah
Fenomena fatherless yang semakin marak sejatinya merupakan alarm bagi kita semua bahwa institusi keluarga sedang menghadapi ancaman serius. Persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan program-program parsial yang hanya menyentuh gejala, tetapi harus diselesaikan hingga ke akar penyebabnya.
Islam telah memberikan panduan yang sempurna dalam membangun keluarga, masyarakat, dan negara yang mampu melahirkan generasi terbaik. Ketika peran ayah dan ibu berjalan sesuai tuntunan syariat serta didukung oleh sistem kehidupan Islam yang menyeluruh, maka akan terwujud generasi berkualitas yang menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya, kebanggaan umat, dan pembangun peradaban mulia.
Sebagaimana doa yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an:
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS Al-Furqan: 74)
Wallahualam bishawab []
Penulis: Mimy Muthmainnah
Pegiat Literasi




