Catatan.co – Judi Online Produk Sistem Rusak. Kadang kita sulit percaya, tapi itulah yang terjadi. Seorang pemuda di Lahat, Sumatra Selatan, tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri, sosok yang melahirkannya, yang mestinya paling ia lindungi. Yang membuat makin miris, pemicunya bukan konflik besar. Bukan pula masalah pelik yang berlarut-larut, tapi kecanduan judi online.
Sumber:
https://www.metrotvnews.com/read/kewCj6a6-kecanduan-judol-anak-di-lahat-bunuh-ibu-kandung-jasad-dibakar-dan-dimutilasi
Dari sesuatu yang awalnya mungkin dianggap “coba-coba”, “iseng”, atau sekadar mengisi waktu, akhirnya berubah jadi ketergantungan. Lalu berubah lagi jadi tekanan. Dan pada titik tertentu, akal sehat seolah hilang. Yang tersisa hanya dorongan untuk keluar dari masalah, dengan cara apa pun. Ini bukan kejadian pertama, dan kalau jujur, rasanya juga bukan yang terakhir.
Kesalahan Cara Memandang Hidup
Kalau semua ini hanya disimpulkan sebagai “kurang iman”, rasanya terlalu sederhana. Karena faktanya, kasus seperti ini terus berulang. Ada sesuatu yang lebih dalam dari cara kita memandang hidup. Hari ini, banyak orang hidup tanpa benar-benar menjadikan agama sebagai pegangan. Sekularisme pelan-pelan membentuk cara berpikir, agama cukup di tempat ibadah, tapi urusan hidup sehari-hari pakai logika sendiri.
Akhirnya, ukuran benar dan salah pun ikut berubah. Selama menghasilkan uang, dianggap wajar. Selama menguntungkan, dianggap boleh. Di sinilah judi online mendapat tempat. Ia tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dijauhi, tapi justru dianggap peluang. Padahal Allah sudah jelas mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, judi… adalah perbuatan keji dari perbuatan setan, maka jauhilah…”
(QS. Al-Ma’idah: 90)
Kalimat “jauhilah” itu tegas. Bukan sekadar “jangan berlebihan”, tapi benar-benar diminta untuk dijauhi. Karena memang dampaknya merusak, bukan hanya harta, tapi juga akal dan hubungan manusia.
Tekanan Hidup dan Jalan Pintas yang Menipu
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata soal kondisi ekonomi. Hidup hari ini tidak mudah. Harga kebutuhan naik, tuntutan hidup makin banyak, sementara penghasilan tidak selalu mengikuti. Banyak orang akhirnya merasa terdesak. Capek, bingung, dan tidak tahu harus ke mana.
Di titik seperti itu, judi online sering terlihat seperti “jalan keluar cepat”. Tinggal klik, main, berharap menang. Seolah bisa menyelesaikan masalah dalam sekejap. Padahal kenyataannya justru sebaliknya, yang awalnya ingin keluar dari masalah, malah makin tenggelam.
Negara Antara Ada dan Tiada
Harusnya, ketika kondisi seperti ini terjadi, negara jadi pihak yang paling depan melindungi masyarakat. Akan tetapi, yang kita lihat hari ini, penanganan oleh negara masih setengah-setengah. Situs diblokir, tapi muncul lagi yang baru. Aturan dibuat, tapi tidak menyentuh akar masalah.
Bahkan kadang muncul pertanyaan di benak: apakah ini benar-benar diberantas, atau hanya dikendalikan?
Kalau ukurannya masih soal ekonomi, selama ada “manfaatnya” maka wajar kalau masalah ini tidak pernah benar-benar selesai. Ditambah lagi, hukuman bagi pelaku kejahatan sering kali tidak memberi efek jera. Kasus demi kasus terus berulang. Bahkan makin brutal.
Islam Melihat dari Akar, Bukan Sekadar Permukaan
Di sinilah Islam berbeda. Islam tidak hanya bicara soal larangan, tapi juga membangun cara hidup. Dimulai dari akidah bahwa hidup ini tidak bebas sebebas-bebasnya. Ada Allah yang mengawasi, ada pertanggungjawaban yang menanti. Dari sini, lahir kontrol diri.
Baca Juga: Solusi Islam Atasi Pengangguran
Standarnya jelas, halal dan haram. Bukan untung dan rugi. Islam juga tidak menutup mata soal kebutuhan hidup. Negara punya tanggung jawab memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi. Bukan diserahkan sepenuhnya ke mekanisme pasar. Kalau kebutuhan dasar terjamin, orang tidak perlu mencari jalan pintas yang berbahaya.
Di sisi lain, negara juga harus tegas. Judi, dalam bentuk apa pun, tidak diberi ruang. Bukan sekadar diblokir, tapi diberantas sampai ke akarnya. Dan soal hukum, Islam tidak main-main. Sanksi dibuat tegas, bukan sekadar menghukum, tapi juga mencegah agar kejahatan tidak terulang.
Saatnya Kita Jujur: Ini Bukan Kebetulan
Peristiwa seperti di Lahat seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Bukan hanya sedih, tapi juga berpikir. Kenapa kasus seperti ini terus terjadi?
Allah sudah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
Kadang kita sibuk menyalahkan pelaku, tapi lupa melihat sistem yang membentuknya. Kalau cara hidupnya tidak berubah, maka kejadian seperti ini akan terus terulang. Mungkin dengan cerita yang berbeda, tapi akar masalahnya sama.
Karena itu, yang perlu diperbaiki bukan hanya individunya. Akan tetapi juga cara kita memandang hidup dan sistem yang kita jalani. Kembali kepada aturan Allah bukan sekadar pilihan pribadi, tapi kebutuhan, kalau kita benar-benar ingin menyelamatkan keluarga dan masyarakat dari kerusakan yang makin dalam. Wallahualam []
Penulis: Ummu Dzakiroh
(Aktivis Muslimah)




