Catatan.co – OPINI. Kekerasan Anak Kerap Terjadi, Islam Punya Solusi. Kekerasan terhadap anak kerap terjadi setiap saat dengan beragam bentuk, baik di rumah, luar rumah, maupun ranah daring. Anak terus diintai menjadi sasaran empuk, hingga ruang aman bagi mereka sulit pun diwujudkan.
Selama periode empat bulan terakhir, yakni Januari-April 2026, laporan pengaduan yang terdata di Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mencapai 426 kasus. Kasus terbanyak yang dilaporkan adalah pelecehan seksual dan mayoritas tempat kekerasan pada anak adalah di rumah. Sedangkan, di dunia maya data terbanyak adalah keterlibatan anak dengan judi online.
(https://www.kpai.go.id/publikasi/kpai-gelar-konf-pers-darurat-perlindungan-anak)
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat, terdapat 57 kasus kekerasan seksual terhadap anak pada Januari hingga April 2026. Dalam data yang diunggah dalam siaran pers KPAI di laman resminya, ada 76 kasus anak korban kekerasan fisik dan/atau psikis. Kemudian, tercatat juga 12 kasus anak korban pornografi dan kejahatan siber. Lalu, lima kasus penculikan dan perdagangan anak, serta delapan kasus anak berhadapan dengan hukum sebagai pelaku.
(https://nasional.kompas.com/read/2026/05/18/16205561/data-kpai-ada-57-kasus-kekerasan-seksual-terhadap-anak-pada-januari-april)
Hasil Penerapan Sekularisme
Miris, anak yang seharusnya dilindungi malah kian menemui berbagai kekerasan. Di mana pun anak berada, keamanan seolah menjadi barang mewah yang tak mudah bisa diraih. Peluang kekerasan dengan berbagai motifnya kerap kali menyasar anak. Alhasil, korban kekerasan anak berjatuhan tak terelakkan.
Inilah hasil dari penerapan sistem sekularisme yang memisahkan Islam dari kehidupan. Keimanan tidak lagi menjadi benteng individu dan keluarga. Orientasi hidup hanya mengejar materi, sehingga anak pun tidak lagi dipandang sebagai amanah dari Allah.
Orang tua yang seharusnya melindungi, malah mengabaikan anak bahkan menjadi pelaku utama kekerasan. Naluri kasih sayang seakan tercerabut tak berbekas. Hanya nafsu buas yang menyergap, hingga mereka tega menganiaya bahkan menodai darah dagingnya sendiri.
Baca Juga: Kampung Narkoba
Selain itu, penerapan sistem ekonomi kapitalisme telah nyata menciptakan tekanan ekonomi yang mengimpit keluarga. Tak heran, kemiskinan dan kesenjangan sosial makin menganga. Hal inilah yang memantik kekerasan di dalam rumah tangga.
Ketika penghasilan ayah tak mencukupi kebutuhan, kerap kali ibu berperan ganda sebagai pengurus rumah tangga dan pencari nafkah tambahan. Akibatnya, mereka melalaikan pengasuhan terhadap anaknya. Anak pun terlantar dan hanya ditemani dengan pendampingan gadget. Padahal, seorang anak sangat membutuhkan peran orang tua dalam pengasuhannya, apalagi jika usianya masih kecil.
Massifnya konten media sosial yang destruktif juga turut andil dalam memperparah krisis keamanan bagi anak. Konten muatan kekerasan, pornografi dan pornoaksi bertebaran tanpa ada filter sama sekali. Paling banter negara hanya menyeleksi kepemilikan akun berdasarkan usia. Padahal, itu semua tidak mampu membendung massifnya pengaruh buruk media bagi anak.
Negara Gagal Lindungi Anak
Pada faktanya, negara yang bernapas kapitalisme gagal hadir sebagai junnah bagi rakyatnya, termasuk anak-anak. Solusi yang ditawarkan pun ketika ada masalah hanya reaktif dan parsial tanpa menyentuh akar masalahnya, misalnya pembatasan sosial media bagi anak. Padahal, anak butuh suasana bahkan penjagaan yang maksimal untuk menunjang tumbuh kembang optimal. Apalagi, anak merupakan calon generasi penerus bangsa.
Bagaimana masa depan mereka jika anak-anak terus mengalami kekerasan? Bagaimana bisa negeri ini menjadi negara besar sementara generasinya merupakan generasi rusak yang telah tergilas dengan keserakahan dan nafsu dunia? Sejatinya, impian negara menghasilkan menuju generasi emas hanyalah pepesan kosong belaka.
Begitu pula, sanksi bagi pelaku kekerasan terhadap anak sama sekali tidak menjerakan. Tak heran, kasus yang sama terus berulang bahkan makin subur. Semua itu makin menegaskan bobroknya sistem kapitalisme yang telah diterapkan hari ini.
Solusi Islam
Islam menjadikan akidah sebagai pondasi keluarga sehingga keimanan menjadi benteng pertama. Orang tua yang memahami Islam akan memandang anak sebagai amanah yang wajib dijaga. Mereka akan mendidik anaknya dengan pemahaman Islam yang benar serta akidah yang kokoh, bukan malah melukai dan menodainya.
Orang tua yang paham Islam tidak akan mengabaikan kewajiban untuk menjaga dan melindungi anak. Mereka senantiasa menghadirkan idrak silah billah ketika berperan sebagai orang tua yang membersamai anaknya. Karena mereka menyadari tanggung jawab besar yang ada di pundaknya. Anak pun merasa aman dan terjaga fitrahnya.
Demikian pula, sistem ekonomi Islam memastikan kebutuhan dasar keluarga terpenuhi oleh negara. Negara benar-benar hadir dalam memudahkan rakyat mengakses kebutuhan mereka. Mulai dari sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, hingga keamanan ditopang penuh oleh negara. Alhasil, tekanan ekonomi tidak akan menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga yang berujung kenestapaan terhadap anak.
Negara Islam hadir sebagai raa’in dan junnah. Negara akan menutup pintu kerusakan dari hulunya, yakni dengan membangun pemahaman Islam yang benar di tengah umat dengan penerapan sistem pendidikan, kemudian menjaga media agar tidak merusak akidah dan membahayakan rakyat. Negara Islam juga menerapkan sistem sanksi (uqubat) yang bersifat zawajir dan jawabir bagi pelaku kekerasan terhadap anak, sehingga menjerakan dan memutus rantai kejahatan.
Khatimah
Demikianlah, peran negara Islam dalam menuntaskan problem kekerasan pada anak. Sehingga keamanan anak akan terjaga dan terlindungi. Semua ini hanya bisa terealisasi dalam negara yang menerapkan Islam secara kaffah.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-Araf: 96)
Wallahu a’lam bishawab.[]
Penulis: Renita, S.Pd
Aktivis Muslimah




