Pendidikan Islam: Mencetak Insan Bertakwa

Pendidikan Islam: Mencetak Insan Bertakwa

Catatan.co – Pendidikan Islam: Mencetak Insan Bertakwa. Rangkaian kegiatan Youth Red Cross Competition (YRCC) 2025 yang digelar Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kutai Kartanegara resmi berakhir pada Minggu (5/10/2025). Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, yang menutup kegiatan tersebut, menegaskan pentingnya menanamkan nilai kemanusiaan sejak dini di kalangan pelajar. Menurutnya, YRCC bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sarana pendidikan karakter dan empati bagi generasi muda.

Pernyataan itu tentu bernilai positif. Di tengah krisis moral pelajar saat ini, upaya menumbuhkan nilai kemanusiaan menjadi hal yang sangat penting. Namun, jika dicermati lebih dalam, fakta bahwa pembentukan karakter justru dilakukan di luar sistem pendidikan formal menunjukkan adanya kelemahan mendasar dalam sistem pendidikan nasional.

Sumber:https://kaltim.tribunnews.com/tribun-etam/1121113/yrcc-2025-kukar-berakhir-sunggono-tekankan-nilai-kemanusiaan-di-kalangan-pelajar

Lemahnya Sistem Pendidikan Sekuler

Selama ini, berbagai pihak berupaya menambal krisis karakter melalui kegiatan tambahan di luar jam pelajaran sekolah. Seperti Pramuka, PMR, atau YRCC.

Meski bertujuan baik untuk melatih empati, kepedulian, dan kerja sama di antara murid. Namun sayangnya, jika ditelisik lebih dalam, seluruh kegiatan tersebut merupakan produk akal bukan berakar pada nilai-nilai syariat Islam. Tentu saja kegiatan tersebut akan menambah beban belajar bagi murid. Akibatnya, terbentuklah karakter yang rapuh dan tidak memiliki arah atau visi yang jelas.

Tak dapat dimungkiri, kondisi ini merupakan buah dari sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Nilai-nilai agama ditempatkan hanya sebagai pelengkap, bukan pondasi utama. Sekolah lebih fokus mengejar pencapaian prestasi akademik dan kompetisi global daripada membentuk kepribadian Islam.

Berbeda dengan sekularisme, dalam Islam pendidikan menempati posisi yang sangat penting. Ia menjadi wadah lahirnya generasi unggul, bertakwa dan berakhlak mulia.

Tujuan Pendidikan dalam Islam

Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk insan yang berkepribadian Islam dan berwawasan luas. Setiap ilmu yang diajarkan harus selaras dengan syariat Islam, baik pelajaran di sekolah maupun ilmu-ilmu kehidupan lainnya. Generasi didorong untuk menimba ilmu syar’i, tsaqofah Islam, dan ilmu bermanfaat lainnya.

Rasulullah saw. telah bersabda, “Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Tirmidzi).

Hadis tersebut menegaskan bahwa siapa pun yang berjuang menuntut ilmu akan mendapatkan kedudukan mulia, karena seluruh perjalanan dan usaha yang ia lakukan tergolong sebagai ibadah di jalan Allah hingga ia kembali.

Ada tiga tujuan pokok dalam pendidikan Islam:

1. Membangun kepribadian Islam yang utuh, yaitu membentuk pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Pembinaan dilakukan secara berkelanjutan di setiap jenjang pendidikan agar peserta didik tumbuh dengan karakter Islami yang matang.

2. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis, agar mampu berinteraksi secara produktif dengan lingkungannya. Termasuk di dalamnya penguasaan berbagai bidang ilmu terapan seperti teknologi, pertanian, industri, serta inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan.

3. Mempersiapkan peserta didik menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan penguasaan ilmu-ilmu dasar yang komprehensif, baik dalam bidang tsaqafah Islamiyah seperti bahasa Arab, fikih, tafsir, dan hadis, maupun dalam bidang sains dan teknologi seperti matematika, kimia, fisika, dan disiplin ilmu lainnya.

Pendidikan Islam tidak berhenti pada penguasaan ilmu semata, tetapi diarahkan untuk membentuk insan yang bertakwa dan sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Allah. Untuk mewujudkannya, diperlukan sistem politik pendidikan Islam yang utuh, bukan sistem sekuler yang menempatkan agama hanya di jam pelajaran tertentu.

Kurikulum Berbasis Akidah

Untuk mencetak generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia, dibutuhkan sistem pendidikan yang bersumber dari Allah Swt., dan contoh teladan dari Rasulullah saw. Pendidikan dalam Islam telah dirancang sedemikian rupa untuk melahirkan generasi yang lurus akidahnya, luas ilmunya, tangguh jiwanya, serta mulia akhlaknya.

Ketika generasi memahami bahwa keberadaan hidupnya untuk beribadah, maka tidak akan lagi mencari validasi dunia. Ia berusaha menjalani setiap detik waktu yang dilalui dengan menyibukkan diri pada amalan-amalan salih.

Kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islamiyah. Setiap mata pelajaran dan metode pengajaran harus disusun tanpa penyimpangan sedikit pun dari asas tersebut.

Ulama dan pemikir Islam, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, dalam Kitab Nizhamul Islam halaman 189 (Peraturan Hidup dalam Islam), menjelaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab penuh dalam mendidik generasi agar terbentuk pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang Islami.

Karena itu, kurikulum pendidikan Islam tidak sekadar memberikan pelajaran agama, tetapi mengintegrasikan seluruh disiplin ilmu dengan akidah Islam. Guru pun tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga musrif-musrifah pembimbing ruhani dan akal yang menanamkan nilai-nilai Islam dalam setiap bahan ajar dan proses belajar-mengajar.

Generasi Emas

Sejarah telah membuktikan keunggulan sistem pendidikan Islam, khususnya pada masa Daulah Abbasiyah. Saat itu, pendidikan Islam berhasil melahirkan generasi emas seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Al-Jazari, dan banyak tokoh lainnya.

Ibnu Sina atau Avicenna dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern. Di usia 16 tahun, beliau telah mempelajari ilmu kedokteran secara mendalam. Berkat ketekunan dan kecerdasannya, beliau menghasilkan berbagai karya termasuk menulis karya agung berjudul Al-Qanun fi At-Thibb, kitab monumental yang menjadi rujukan utama dalam dunia kedokteran di Eropa pada masa itu.

Begitu pula dengan Al-Khawarizmi, ilmuwan Muslim asal Kufah, Irak, yang dikenal sebagai Bapak Aljabar. Ia menulis karya penting berjudul Al-Kitab al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah, yang menjadi dasar perkembangan ilmu matematika modern.

Ada pula Al-Farabi, Al-Jazari, dan banyak ilmuwan lainnya yang menunjukkan betapa gemilangnya peradaban Islam. Mereka bukan hanya ilmuwan kelas dunia, tetapi juga ulama yang taat kepada Allah. Betapa hebat, pendidikan Islam kala itu mampu melahirkan generasi emas, ilmuwan berilmu tinggi, tetapi tetap tunduk dan rendah hati di hadapan Sang Pencipta.

Baca Juga: Kisruh SPMB

Lembaga-lembaga seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad dan Madrasah Nizamiyah di berbagai wilayah menjadi simbol kejayaan intelektual Islam. Di sana, sains tidak terpisahkan dari payung keimanan. Itulah harmoni antara akal dan wahyu yang menjadi dasar kemajuan peradaban Islam selama berabad-abad.

Khatimah

Kegiatan seperti YRCC patut diapresiasi karena menumbuhkan semangat, empati di kalangan pelajar. Namun, jika akar sistem pendidikannya masih sekuler, hasilnya akan tetap dangkal. Empati tanpa iman tidak akan cukup untuk membentuk generasi tangguh dan berkarakter.

Kini, saatnya kita kembali kepada sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang telah terbukti mampu mencetak generasi rabbani, cerdas, beradab, berilmu mumpuni, melek teknologi, serta memiliki jiwa kepemimpinan. Sebab, hanya dalam sistem Islam kaffah, pendidikan dapat berfungsi sebagaimana mestinya mencetak manusia berilmu dan bertakwa. Sehingga ketika kelak terjun ke masyarakat atau menjadi pejabat negara senantiasa amanah dan bertanggung jawab.

Allah Swt. berfirman:

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

(QS. Ali Imran: 110)

Sudah saatnya pendidikan Islam kembali menjadi ruh kebangkitan umat, agar lahir generasi emas yang memiliki pola pikir cemerlang, teguh memegang kebenaran, istikamah berdakwah, dan hati yang selalu terpaut kepada Allah Swt.

Wallahualam bishawwab.[]

Penulis: Mimi Muthmainnah

Pegiat Literasi