Catatatn.co – OPINI. Subsidi Pendidikan Menyusut, Mahasiswa Pilih Berhenti Kuliah. Negeri ini sudah merdeka selama puluhan tahun. Bukannya makin maju, sebaliknya masalah internal makin kacau. Sektor pendidikan yang sangat krusial dalam membangun masyarakat pun ikut kena imbas. Kemampuan Masyarakat mengakses perguruan tinggi semakin susah.
Semua ini disebabkan menyusutnya subsidi pemerintah untuk perguruan tinggi. Sejumlah perguruan tinggi negeri berbadan hukum atau PTNBH mengalami tekanan keuangan, menyusul menurunnya tren alokasi dana dari pemerintah. Sehingga, selama satu dekade terakhir PTNBH berpotensi meningkatkan ketergantungan kampus pada uang kuliah yang ditanggung mahasiswa.
https://www.kompasiana.com/labqcmaulidina0887/6a318f3bc925c406de2c5162/subsidi-menyusut-biaya-kuliah-bertambah-mahasiswa-putus-kuliah
Tingginya biaya kuliah menyebabkan beban pembiayaan yang harus ditanggung mahasiswa dan keluarganya semakin besar. Akibatnya, banyak mahasiswa yang kesulitan melanjutkan studi hingga akhirnya memilih berhenti kuliah. Permasalahan ini tidak dapat dilepaskan dari kebijakan liberalisasi pendidikan yang menjadikan kampus harus membiayai operasionalnya secara mandiri.
Baca Juga: Dinamika Relasi
Perguruan tinggi menjadikan UKT (Uang Kuliah Tunggal) sebagai salah satu sumber pemasukannya. Akibatnya, mahasiswa dan orang tua menjadi pihak yang menanggung sebagian besar biaya penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak dasar masyarakat berubah menjadi layanan yang harus dibeli sesuai kemampuan ekonomi masing-masing.
Kapitalisme Memperburuk Keadaan
Arah pandang kapitalisme juga turut memperparah keadaan. Sistem kapitalisme memandang bahwa pendidikan merupakan komoditas yang dapat diperjualbelikan. Sementara negara yang seharusnya berperan sebagai penyelenggara layanan pendidikan lebih banyak berperan sebagai regulator.
Akibatnya, tanggung jawab pembiayaan pendidikan bergeser kepada individu dan masyarakat, sehingga akses terhadap pendidikan tinggi menjadi tidak merata. Dari sini tampak nyata bahwa “penguasa” yang sebenarnya adalah para kapitalis yang siap melakukan apa saja demi keuntungan pribadinya.
Cara Pandang Islam
Islam memiliki arah pandang yang berbeda dengan kapitalisme. Islam memandang bahwa Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang harus diperoleh masyarakat sehingga negara harus mengupayakan agar bisa diakses dengan mudah. Pendidikan merupakan faktor penting kemajuan suatu bangsa.
Sumber daya manusia yang kompeten akan dengan mudah menyelesaikan berbagai masalah manusia. Keberadaan pendidikan tinggi menjadi hal penting yang harus diwujudkan untuk mencetak para ulama yang ahli dalam agama serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam sistem Islam, negara berperan sebagai raa’in, pengurus dan pelindung rakyat. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Negara yang amanah wajib menyelenggarakan pendidikan dari dasar hingga tinggi secara gratis, agar tidak ada lagi cerita putus kuliah karena terkendala biaya. Semua orang diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi dan menyumbang bagi kemajuan umat. Untuk mewujudkan itu, pendanaan pendidikan tidak bisa bergantung pada UKT atau pinjaman mahasiswa.
Sumber pendanaan negara berasal dari baitulmal yang memang memiliki banyak pos pemasukan tetap, seperti pengelolaan sumber daya alam, fai, kharaj, jizyah, dan zakat. Dengan baitulmal yang kuat, negara mampu membiayai guru, fasilitas, riset, sampai beasiswa tanpa membebani rakyat.
Dalam sejarah peradaban Islam telah tercatat keberhasilannya mewujudkan masyarakat yang berpendidikan. Dunia Islam berhasil menyediakan pendidikan secara gratis mulai dari level terkecil hingga perguruan tinggi, serta menyediakan sarana prasarana seperti gedung, perpustakaan, laboratorium untuk penelitian, dan seterusnya.
Tinta Sejarah mencatat bahwa Khalifah Umar bin Khattab memberikan gaji kepada para pengajar sebesar 15 dinar per bulan. Kita tentu bisa menghitung sendiri berapa jumlahnya jika dihitung dengan harga dinar saat ini. Begitu juga pada masa Khilafah Abbasiyah, gaji pendidik mencapai 1.000 dinar per tahun.
Pendidikan yang dibangun oleh Islam telah banyak melahirkan generasi berkualitas hebat. Sebut saja Ibnu Sina atau yang dikenal dengan Avicena, seorang ahli di bidang kedokteran dan filsafat. Juga ada Al-Khawarizmi ahli matematika dan astronomi, sekaligus penemu algoritma. Demikian juga Al-Jazari sebagai Bapak Robot. Di kalangan muslimah ada Fatimah al-Fihri dari Tunisia yang merupakan rektor pertama. Beliau mendirikan perguruan tinggi pertama di Fes, Maroko, jauh sebelum universitas di Barat didirikan.
Pada masa Islam berjaya terdapat universitas yang tersohor seperti Universitas Al-Azhar, Universitas Nizhamiyah, Universitas Al-Mustansiria, serta lembaga-lembaga informal lainnya. Universitas ini menjadi rujukan bagi para pencari ilmu di seluruh dunia.
Dari sini hendaknya kita menyadari bahwa tingginya biaya kuliah dan meningkatnya angka putus kuliah menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam pengelolaan pendidikan tinggi saat ini. Ketika Islam menawarkan solusi yang luar biasa hendaknya kita menyambutnya dengan sukacita. Sungguh Allah Swt. telah menurunkan aturan kehidupan untuk memudahkan manusia. Wallahu’alam bi shawab. []
Penulis: Adinda Khoirunnisa’
(Aktivis Muslimah)




