Pohon Zaitun Palestina Dihancurkan, Umat Butuh Kepemimpinan

Pohon Zaitun Palestina Dihancurkan, Umat Butuh Kepemimpinan

Catatan.co – OPINI. Pohon Zaitun Palestina Dihancurkan, Umat Butuh Kepemimpinan. Pohon zaitun bukan sekadar tanaman bagi rakyat Palestina, tetapi menjadi simbol identitas, sejarah, dan keterikatan mereka dengan tanah airnya. Namun, di tengah penjajahan Israel, pohon zaitun yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Palestina justru terus mengalami penghancuran, terutama ketika memasuki musim panen pada Oktober hingga November.

Lebih dari 90.000 keluarga Palestina bergantung pada pertanian zaitun sebagai sumber penghidupan. Sektor ini juga menyumbang sekitar 8 persen terhadap PDB Palestina. Artinya, penghancuran pohon zaitun bukan hanya merusak tanaman, tetapi juga mengancam mata pencaharian, ketahanan ekonomi, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat Palestina.

Serangan terhadap pertanian zaitun sebenarnya telah berlangsung lama. Akan tetapi, semakin meningkat saat musim panen. Sejak awal musim panen zaitun 2026, tercatat sekitar 200 serangan oleh penduduk penjajah Israel yang didukung IDF. Serangan tersebut mengakibatkan satu orang Palestina tewas, lebih dari 120 orang terluka, dan lebih dari 2.500 pohon zaitun dirusak.

(https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260928052613-120-1408855/jelang-panen-ratusan-pohon-zaitun-petani-palestina-dibuldoser-israel?utm_source=chatgpt.com)

(https://www.trtindonesia.com/article/6c06d6209082?utm_source=chatgpt.com)

Serangan Lain

Bahkan, kekerasan tidak hanya menyasar petani dan perkebunan zaitun. Jurnalis, aktivis, serta politikus dari dalam maupun luar negeri yang berada di lokasi juga mengalami serangan. Salah satunya adalah jurnalis Amerika Serikat yang diserang di Tepi Barat. Peristiwa ini mendapat perhatian internasional hingga Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyerukan kepada Israel untuk menghentikan serangan penduduk pemukim.

(https://www.aljazeera.com/amp/news/2026/10/16/palestinians-us-journalist-attacked-in-west-bank-pogrom-what-we-know?utm_source=chatgpt.com)

(https://m.economictimes.com/news/international/world-news/marco-rubio-calls-on-israel-to-curb-settler-attacks-after-us-journalist-assaulted/articleshow/135023667.cms?utm_source=chatgpt.com)

Dampak Nyata

Dengan demikian, serangan terhadap pohon zaitun Palestina tidak hanya berdampak pada kerusakan pertanian, tetapi juga mengancam sumber penghidupan, identitas, dan keberadaan rakyat Palestina di tanah mereka.

Baca Juga: Anak dalam Genggaman Dunia Digital

Jika melihat berbagai serangan yang terjadi, penghancuran pohon zaitun tidak bisa dipandang sekadar sebagai persoalan pertanian. Ada dampak yang lebih luas terhadap kehidupan rakyat Palestina, baik dari sisi ekonomi maupun keberadaan mereka di tanah sendiri.

Ketika pohon-pohon ini dihancurkan, petani kehilangan sumber penghidupan. Kehilangan sumber ekonomi membuat masyarakat semakin sulit mempertahankan kehidupan di tanahnya. Karena itu, penghancuran pertanian zaitun dapat dipahami sebagai bagian dari tekanan yang berpotensi mendorong rakyat Palestina meninggalkan tanah mereka. Yang terancam bukan hanya hasil panen, tetapi juga keberlangsungan kehidupan dan identitas rakyat Palestina.

Menambah Penderitaan

Di tengah kondisi tersebut, serangan terhadap jurnalis dan aktivis juga menjadi persoalan serius. Kehadiran mereka di tengah petani Palestina penting untuk mendokumentasikan serangan, memberikan kesaksian, dan menyampaikan kondisi yang dialami masyarakat kepada dunia. Ketika jurnalis dan aktivis turut menjadi sasaran kekerasan, hal ini berpotensi membuat penderitaan rakyat Palestina semakin sulit diketahui masyarakat internasional. Padahal, keterbukaan informasi menjadi salah satu jalan untuk membangun tekanan agar kekerasan dihentikan.

Kebrutalan Israel terhadap rakyat Palestina telah mengundang kecaman dan kebencian masyarakat dunia. Namun, kecaman dan seruan tersebut belum mampu membawa perubahan berarti terhadap kondisi rakyat Palestina. Mereka masih menghadapi ancaman terhadap keselamatan, sumber penghidupan, dan keberadaan mereka di tanah sendiri.

Sikap Penguasa Muslim

Di sisi lain, sikap para penguasa negeri-negeri Muslim, terutama negara-negara Arab, juga patut dikritisi. Palestina memiliki kedekatan geografis, sejarah, dan ikatan keislaman dengan negeri-negeri tersebut. Namun, berbagai tekanan dan serangan yang terus terjadi belum diikuti langkah politik yang mampu menghentikan penjajahan secara nyata.

Bahkan, sebagian penguasa justru mempertahankan hubungan politik dan kerja sama dengan Amerika Serikat, sementara AS merupakan sekutu utama Israel. Hubungan politik dan kepentingan dengan kekuatan besar ini menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan. Solidaritas terhadap Palestina tidak cukup hanya melalui pernyataan, bantuan kemanusiaan, atau kecaman diplomatik, sementara hubungan politik yang menopang kekuatan penjajah tetap dipertahankan.

Dengan demikian, persoalan Palestina bukan hanya tentang kebrutalan Israel, tetapi juga tentang lemahnya tindakan politik dunia dan para penguasa negeri Muslim dalam menghentikan penjajahan. Maka, umat Islam tidak bisa terus berharap pada negara-negara besar untuk menyelesaikan persoalan mereka. Umat Islam membutuhkan persatuan dan kekuatan bersama agar mampu melindungi rakyat Palestina.

Allah Swt. berfirman,

 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

 

“Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.”

(QS. Ali ‘Imran: 103)

Umat Butuh Kepemimpinan

Kondisi Palestina saat ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak bisa terus berharap pada negara-negara besar untuk menyelesaikan persoalan mereka. Umat Islam membutuhkan persatuan dan kekuatan bersama agar mampu melindungi rakyat Palestina.

Karena itu, umat Islam perlu bersatu dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunah. Persatuan ini diwujudkan melalui Daulah Islam, yaitu kepemimpinan yang menyatukan umat Islam dan mengurus urusan mereka berdasarkan hukum Islam. Dengan adanya persatuan dan kepemimpinan, potensi umat yang besar dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan yang menimpa kaum Muslimin, termasuk persoalan Palestina.

Oleh karena itu, perjuangan membela Palestina tidak cukup hanya dengan doa, kecaman, dan bantuan kemanusiaan. Umat Islam perlu membangun kesadaran Islam yang menyeluruh, memperkuat persatuan, dan memperjuangkan kepemimpinan yang mampu melindungi serta mengurus urusan umat. Hal ini berkaitan dengan urgensi tegaknya Daulah Islamiyah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunah, sebagai upaya mewujudkan persatuan dan memperjuangkan kepentingan umat.

Wallahu a’lam bish-shawab. []

Penulis: Salma Hajviani

Aktivis Muslimah