Catatan.co – FAMILY. Setiap Anak Terlahir Istimewa. Setiap bulan Desember kalender akademik pendidikan, menetapkan untuk liburan semester. Liburan semester ini biasanya dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga. Tidak sedikit warga urban yang memanfaatkan liburan semester ini untuk pulang kampung. Ada juga saudara yang di kampung halaman berlibur ke kota.
Momen liburan semester ini adalah momen berkumpul keluarga untuk melepaskan rasa rindu. Jika sudah berkumpul keluarga, pasti cerita mengalir tidak pernah ada habisnya. Selain bercerita, kita juga menanyakan terkait dengan kondisi anak-anak.
Desember tahun ini kebetulan keluarga saya yang dari kampung datang berkunjung ke rumah. Kami saling berbagi cerita dan menanyakan kabar keluarga. Ketika kami sedang memasak, salah satu saudara menanyakan tentang salah satu anak saya, “bagaimana kabar si A? Sudah berapa juz sekarang hafalannya di pondok?”.
Deg, hati saya kaget dan tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang si A ini hafalan Al-Qur’annya kurang, jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Saya jawab dengan senyuman. Alhamdulillah, saudara saya tidak menanyakan lebih lanjut.
Dari cerita di atas kita bisa ambil pelajaran, bahwa setiap anak memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda. Meski lahir dari rahim yang sama, tapi beda dari sisi potensi dan kemampuan. Anak pertama menonjol dari sisi hafalan Al-Qur’an, berbeda dengan anak kedua dia menonjol dari sisi sains. Hal ini juga berbeda dengan anak ketiga dan keempat. Anak ketiga sangat suka menghafal kitab-kitab karya ulama besar. Namun, beda dengan anak keempat dia sangat cepat untuk bersosialisasi.
Baca Juga: Asap Tak Kunjung Padam
Itulah kondisi anak-anak kita. Setiap anak punya keistimewaan yang berbeda-beda. Kita sebagai ibu jangan sampai membandingkan satu anak dengan anak yang lain. Kita juga jangan sampai membanggakan satu anak ke saudaranya yang lain. Tugas kita sebagai seorang ibu adalah menghargai setiap proses yang dilakukan oleh anak kita dan juga mengembangkan potensi dan kemampuan dari setiap anak sehingga semakin terarah dan melejit.
Setiap anak terlahir ke dunia ini membawa keistimewaan dan takdirnya masing-masing. Dalam pandangan Islam, tidak ada “produk” ciptaan Allah yang gagal atau sia-sia. Baik mereka yang lahir dengan kecerdasan akademis yang melejit, maupun mereka yang Allah titipkan dengan kebutuhan khusus dan keterbatasan fisik, semuanya adalah makhluk mulia yang membawa misi spiritual tersendiri bagi orang tua dan lingkungannya.
Mengapa dalam Islam setiap anak disebut istimewa? Berikut alasannya:
1. Anak Terlahir di Atas Fitrah yang Suci.
Islam memandang anak bukan sebagai kertas kosong yang tak bermakna, melainkan sebagai jiwa yang suci. Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian/Islam). Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)
Keistimewaan utama seorang anak adalah kesucian jiwanya. Tugas orang tua bukan mengubah atau memaksa anak menjadi miniatur orang lain, melainkan menjaga fitrah bersih tersebut agar tetap condong kepada kebaikan dan tauhid.
2. Anak Adalah Amanah
Anak bukanlah hak milik mutlak orang tua, melainkan amanah dan titipan langsung dari Allah Swt. karena statusnya sebagai amanah, Allah menyertakan “modal” yang unik pada diri setiap anak. Cara orang tua memperlakukan, mendidik, dan menerima keunikan anak inilah yang akan menjadi penentu hisab di akhirat kelak. Mengasuh anak dengan penuh keikhlasan—terutama anak-anak istimewa yang memiliki kebutuhan khusus—adalah “jalur VIP” menuju rida dan surga-Nya.
3. Ciptaan Allah yang Unik dan Memiliki Rezekinya Sendiri
Sering kali standar duniawi menjebak orang tua untuk membanding-bandingkan anak. Padahal, Allah tidak menilai manusia dari siapa yang paling cepat, paling pintar, atau paling menonjol secara materi. Setiap anak adalah ciptaan yang unik dengan kecepatan tumbuh dan jalan hidup yang berbeda.
Kelebihan tidak selalu diukur dengan angka di rapor atau pencapaian fisik. Kebaikan hati, ketulusan, kemampuan bersyukur, dan usaha keras adalah bentuk keistimewaan yang nyata di mata Allah.
4. Ladang Pahala Jariah yang Tak Terputus
Keistimewaan anak tidak berhenti saat mereka kecil. Ketika orang tua berhasil menanamkan akhlak mulia dan mendidik mereka menjadi hamba yang saleh, anak akan menjadi aset terbesar orang tua di akhirat. Doa dari anak yang saleh adalah satu dari tiga amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun orang tua telah tiada.
Khatimah
Bagi setiap orang tua, sadarilah bahwa anakmu bukanlah anak orang lain. Jangan pernah merasa gagal atau malu jika anak kita tidak tumbuh seperti “anak-anak pada umumnya”. Boleh jadi, anak yang dianggap memiliki kekurangan di mata manusia justru merupakan cara Allah untuk menjaga kesucian hati kita, melatih keikhlasan, dan mengajarkan cara bersyukur yang paling dalam. Tugas kita hanyalah merawat, mengapresiasi setiap usaha kecil mereka, dan membantu mereka menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri di hadapan Allah Swt. []
Penulis: Lia Ummu Thoriq
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)




