Generasi Terbaik Lahir dari Peradaban Mulia

Generasi Terbaik Lahir dari Peradaban Mulia

Catatan.co – Generasi Terbaik Lahir dari Peradaban Mulia. Anak adalah anugerah terindah yang Allah titipkan. Tugas menjadi orang tua tidaklah mudah. Sudah alamiahnya orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Menjaga setiap saat bahkan di mana pun anak berada. Namun, dengan kondisi yang rusak saat ini, menjadikan orang tua kesulitan untuk mengawasi anak selama 24 jam. Saat ini lingkungan anak-anak menjadi ancaman karena rusaknya akidah dan moral.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Seorang anak kepalanya berlumuran darah usai ditendang hingga terbentur batu. Kemudian diceburkan ke dalam sebuah sumur di Kampung Sadang Sukaasih, Desa Bumiwangi, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Kejadian tersebut berujung viral di media sosial.

Kapolsek Ciparay, Iptu Ilmansyah mengatakan peristiwa yang menimpa anak itu terjadi pada Mei 2025. Anak tersebut, kata Ilmansyah merupakan korban perundungan. Kejadiannya bermula saat ia bersama dua orang temannya dan seorang pria dewasa lainnya, berkumpul di Kampung Sadangasih. Kemudian korban dipaksa oleh kedua temannya dan satu orang dewasa tersebut, untuk menenggak tuak. “Korban menolak, tetapi kemudian dipaksa untuk meminumnya setengah gelas,” kata Kapolsek.

(https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250626190023-20-1244275/bocah-di-bandung-diceburkan-ke-sumur-gara-gara-tolak-minum-tuak)

Akibat Pendidikan Sekuler Kapitalisme

Perundungan anak masih terus terjadi, bahkan dengan tindakan yang makin mengarah kriminal. Mirisnya, pelakunya kebanyakan anak-anak di bawah umur (SD, SMP). Tindakan perundungan termasuk di lingkungan pendidikan membawa kerugian secara fisik dan mental. Oleh karena itu, tindakan perundungan harus segera dihentikan.

Fakta meroketnya kasus perundungan setiap tahun makin menunjukan bahwa kasus perundungan anak ini bagaikan fenomena gunung es. Di sisi lain, juga menunjukkan kegagalan sistem pendidikan yang diterapkan hari ini. Hal ini makin tampak dengan kasus di atas dalam penggunaan tuak yang merupakan minuman haram dan adanya kekerasan oleh anak.

Pendidikan akhlak yang seharusnya didapatkan di sekolah ternyata nihil hasilnya. Padahal, akhlak berperan penting dalam membentuk karakter seseorang. Anak-anak diajarkan untuk saling menghormati, berempati, dan menjaga kehormatan orang lain sejak usia dini.

Melihat kasus serupa yang terus berulang di setiap waktu, menunjukkan gagalnya regulasi dan lemahnya sistem sanksi yang tidak membuat jera para pelakunya. Jelaslah, persoalan mendasar penyebab perundungan adalah persoalan yang bersifat sistemis, yakni akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan.

Maka dari itu, butuh adanya perubahan secara holistik dan menyeluruh. Tidak cukup dengan menggulirkan regulasi atau sanksi yang memberatkan, tetapi juga pada paradigma kehidupan yang diemban oleh negara. Hal ini membuktikan bahwa sistem yang saat ini diterapkan (kapitalisme sekularisme) telah gagal membentuk generasi berkepribadian mulia.

Generasi Terbaik Pandangan Islam

Islam memandang perundungan sebagai perbuatan tercela. Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, termasuk menghormati dan menyayangi sesama manusia. Oleh karena itu, Islam melarang segala bentuk tindakan yang dapat menyakiti atau merendahkan orang lain, termasuk perundungan atau bullying.

Islam juga menjadikan perundungan sebagai perbuatan yang haram dilakukan, baik verbal maupun fisik. Apalagi dalam kasus di atas dengan menggunakan barang haram. Semua perbuatan manusia harus dipertanggungjawabkan.

Dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya empati, masyarakat bisa lebih peka terhadap penderitaan orang lain dan mencegah terjadinya bullying. Begitu juga penanaman akhlak mulia dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, dapat mencegah dan mengatasi bullying. Islam menjadikan balig sebagai titik awal pertanggungjawaban seorang manusia.

Sistem pendidikan Islam memberikan bekal untuk menyiapkan anak sebagai mukallaf (perbuatan-perbuatan yang dapat dikenai hukum dalam Islam) pada saat balig. Pendidikan ini menjadi tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam menyusun kurikulum pendidikan dalam semua level. Selain itu, pendidikan dalam keluarga pun, negara memiliki kurikulumnya. Sehingga akan lahir generasi yang berkepribadian Islam.

Sudah saatnya kita mencampakkan sistem yang berasaskan sekularisme dan menggantinya dengan sistem yang telah terbukti mampu mencetak generasi berkualitas, yaitu sistem Islam. Satu-satunya solusi untuk menyudahi masalah perundungan ini adalah dengan penerapan aturan Islam secara kafah dalam institusi negara yakni Daulah Islam.

Wallahu’alam bi shawab. []

Penulis. Rina Karlina

(Aktivis Dakwah)