Ini Rumah Tangga, Bukan Rumah Duka

Ini Rumah Tangga, Bukan Rumah Duka

Catatan.co – Ini Rumah Tangga, Bukan Rumah Duka. Beberapa waktu terakhir, kita kerap mendengar kabar memilukan, yakni tragedi bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang karena merasa tak lagi mampu menghadapi tekanan hidup dalam rumah tangganya. Kasus semacam ini seharusnya mengguncang kesadaran kita bersama. Sebab rumah tangga, yang idealnya menjadi ruang teduh penuh kasih sayang, berubah menjadi tempat yang menjerat jiwa hingga berakhir tragis.

Fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai masalah personal semata. Ia adalah potret nyata betapa rapuhnya fondasi sosial dan ekonomi masyarakat kita hari ini. Rumah tangga kehilangan fungsi hakikinya. Suami yang seharusnya berperan sebagai qawwam dalam hal ini pemimpin, pelindung, sekaligus penanggung jawab keluarga, tetapi sering kali tidak dapat menunaikan perannya, baik karena lemahnya kesadaran agama maupun karena terimpit ekonomi. Istri pun banyak yang merasa kehilangan tempat bersandar, hingga konflik yang seharusnya bisa diredakan berubah menjadi api yang berkobar.

Akar Masalah: Tekanan Sosial dan Ekonomi

Jika ditelusuri, akar masalahnya sangat erat dengan tekanan sosial dan ekonomi. Hidup di tengah sistem materialistik, banyak keluarga terjebak dalam standar kebahagiaan semu, yaitu rumah harus megah, kendaraan harus terbaru, dan gaya hidup harus mengikuti tren. Ketika kemampuan tak sebanding dengan tuntutan, rasa gagal pun menghantui. Suami merasa tak cukup mampu, istri merasa tak tercukupi, anak-anak kehilangan teladan, dan keluarga kehilangan keharmonisan.

Baca Juga: Judol Menjerat

Lebih parahnya lagi, sistem ekonomi yang ada justru membuka jalan keluar yang destruktif. Pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) menjadi “pelarian” banyak kepala keluarga yang putus asa. Pinjol yang mencekik dengan bunga tinggi membuat utang tak pernah lunas, melainkan bertambah setiap bulan. Sementara judol menjanjikan jalan cepat meraih uang, namun ujung-ujungnya menggerogoti harta, merusak hubungan keluarga, bahkan menghancurkan mental. Damai yang ditawarkan pinjol dan judol hanyalah damai semu yang justru memperparah luka batin dan menambah beban rumah tangga.

Ketika Rumah Tangga Kehilangan Fungsi

Rumah tangga seharusnya menjadi sekolah pertama bagi anak-anak dan ruang teraman bagi pasangan. Namun, dalam kondisi tekanan sosial-ekonomi, fungsi ini hilang. Yang tersisa adalah rumah sebagai arena konflik. Suami melampiaskan frustrasi dengan sikap keras, istri merasa terabaikan, anak-anak tumbuh dalam ketidakstabilan emosi. Tidak heran jika banyak orang kemudian mencari jalan keluar instan.

Namun, inilah kesalahan fatalnya. Sebagian memilih mengakhiri penderitaan dengan cara mengakhiri hidup. Padahal, dalam pandangan Islam, bunuh diri bukanlah solusi, melainkan dosa besar. Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang bunuh diri akan kekal dalam siksa sesuai dengan caranya mengakhiri hidup.

Barang siapa membunuh dirinya dengan besi (alat tajam), maka besi itu berada di tangannya dan ia akan menikam dirinya dengannya pada hari Kiamat. Dan barang siapa meminum racun, maka racunnya ada di tangannya dan ia akan meminumnya pada hari Kiamat. Dan barang siapa melemparkan dirinya dari sebuah gunung (melompat dari ketinggian), maka ia di neraka Jahanam dan akan dilemparkan ke dalamnya.” (Shahih Muslim)

Alih-alih menyelesaikan masalah, bunuh diri justru membuka pintu murka Allah.

Peran Qawwam yang Terabaikan

Salah satu titik penting yang kerap diabaikan adalah peran qawwam. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

Kaum laki-laki adalah qawwam atas kaum wanita…” (TQS. an-Nisa: 34).

Qawwam bukan sekadar pencari nafkah, tetapi pemimpin, pelindung, dan penopang keluarga. Ketika peran ini ditinggalkan, baik karena lemahnya iman maupun karena sistem yang tidak menolong, maka rumah tangga kehilangan nakhoda. Istri kehilangan figur pelindung, anak-anak kehilangan teladan, dan keluarga terombang-ambing dalam gelombang dunia yang keras.

Hilangnya peran qawwam mengakibatkan banyak keluarga yang bingung bahkan salah memahami jalan keluar dari masalah. Mereka mencari pelarian pada hal-hal duniawi dengan menambah utang, mencoba peruntungan dalam judi, hingga berpikir bahwa mati lebih baik daripada hidup. Semua itu adalah jebakan. Solusi sesungguhnya bukanlah melarikan diri, melainkan kembali menata rumah tangga di atas fondasi yang benar, yakni fondasi iman dan ketaatan.

Perspektif Islam

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh untuk menyelamatkan rumah tangga. Ada tiga pilar utama:

Pertama, pilar individu dan keluarga.

Setiap muslim diperintahkan untuk menata dirinya dengan iman (aqidah Islam), membangun rumah tangga dengan takwa, dan menjalankan peran masing-masing sesuai tuntunan syariat. Suami sebagai _qawwam_ harus menunaikan tanggung jawab lahir dan batin. Sementara istri menjadi pendamping yang taat dan mendidik anak-anak dengan nilai Islam. Rumah tangga akan menjadi sakinah hanya bila orientasinya adalah mencari rida Allah, bukan sekadar mengejar kesenangan materi.

Kedua, pilar masyarakat.

Rumah tangga akan rapuh bila berdiri sendirian menghadapi gelombang tekanan sosial dan ekonomi. Tak jarang, masalah finansial, pinjol, hingga judol bukan hanya lahir dari kelemahan individu, tetapi juga karena masyarakat di sekelilingnya permisif, bahkan diam menyaksikan kemungkaran itu tumbuh. Di sinilah pilar kedua solusi Islam menjadi nyata, yakni masyarakat yang hidup dengan ruh amar makruf nahi mungkar.

Amar makruf nahi mungkar bukan sekadar nasihat personal, tetapi mekanisme kontrol sosial yang hidup dalam masyarakat Islam. Rasulullah saw. bersabda:

Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Dengan ruh ini, masyarakat tidak membiarkan tetangganya terlilit pinjol, terjerat judol, atau kehilangan nafkah tanpa uluran tangan. Mereka bukan sekadar penonton, melainkan pelindung dan pengingat. Bukan hanya itu, masyarakat yang menjalankan amar makruf nahi mungkar adalah penopang bagi negara dalam menegakkan syariat. Tanpa pilar masyarakat, negara akan lemah. Begitu juga sebaliknya, tanpa payung negara, amar makruf nahi mungkar sering terbatas. Keduanya bersinergi, dalam hal ini negara menutup pintu-pintu kerusakan secara sistemik, masyarakat mengawasi dan saling mengingatkan di tiap situasi dan kondisi.

Ketiga, pilar negara.

Rumah tangga tak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sistem yang adil. Islam menetapkan negara sebagai penjamin kebutuhan dasar rakyat, seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Negara juga berkewajiban memberantas riba, menutup pintu perjudian, dan menyediakan lapangan kerja. Dengan begitu, keluarga tidak akan terjebak dalam pinjol, judol, atau tekanan ekonomi yang mencekik. Hanya sistem Islam yang mampu memastikan keadilan ini, karena ia berdiri di atas wahyu, bukan kepentingan segelintir elit.

Penutup

Tragedi bunuh diri dalam rumah tangga seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Rumah tangga bukanlah rumah duka. Ia adalah institusi suci yang semestinya menghadirkan ketenangan, cinta, dan rahmat. Namun, semua itu mustahil terwujud bila kita masih berpegang pada solusi parsial dari sistem sekuler-materialistik.

Islam menegaskan bahwa bunuh diri adalah dosa besar, sedangkan hidup harus dijalani dengan sabar dan tawakal. Jalan keluar bukan pada pinjol, judol, atau pelarian instan lainnya, melainkan dengan kembali kepada Islam secara kaffah. Dengan menegakkan pilar individu yang taat dan negara yang menjamin keadilan, rumah tangga akan kembali menjadi surga kecil bagi penghuninya.

Wallahu a’lam bishawab. []

Penulis: Miladiah al-Qibthiyah

(Aktivis Muslimah Sleman, DIY)