Lonjakan Bunuh Diri Pelajar Ungkap Retaknya Pendidikan Sekuler

Lonjakan Bunuh Diri Pelajar Ungkap Retaknya Pendidikan Sekuler

Catatan.co – Lonjakan Bunuh Diri Pelajar Retaknya Pendidikan Sekuler. Dalam beberapa hari terakhir, kabar memilukan kembali datang dari dunia pendidikan kita. Seorang anak ditemukan tewas di Cianjur, disusul kasus lain di Sukabumi. Di Sawahlunto, dua pelajar SMP juga memilih mengakhiri hidupnya di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang tumbuh yang aman dan menenangkan. Hasil penyelidikan bahkan menyatakan tidak ada indikasi perundungan. Artinya, ada luka batin yang jauh lebih dalam dari sekadar persoalan relasi sosial, yakni krisis makna hidup.

https://www.tribunnews.com/regional/7748464/kronologi-siswa-smp-di-sawahlunto-sumbar-diduga-bunuh-diri-di-kelas-ayah-korban-minta-polisi-usut

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (30-10-2025) memaparkan data yang kian mengkhawatirkan. Dari 20 juta anak yang diperiksa kesehatan mentalnya, dua juta lebih mengalami gangguan. Ini bukan sekadar angka. Ini potret rapuhnya kesehatan jiwa generasi yang diharapkan menjadi penjaga masa depan umat.

Sekularisme dan Akar Kerapuhan Generasi

Lonjakan kasus bunuh diri di kalangan pelajar bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia muncul dari tanah subur bernama sistem pendidikan sekuler, sistem yang memisahkan akidah dari proses pembentukan kepribadian. Pendidikan hari ini lebih sibuk mengejar prestasi akademik daripada membangun kekuatan iman. Semua diukur dengan angka, ranking, dan kompetisi, sementara orientasi akhirat jarang sekali disentuh.

Anak didorong untuk mengejar “kesuksesan dunia”, tetapi tidak dikenalkan pada hakikat penciptaannya. Agama diposisikan sebagai pelajaran tambahan, bukan fondasi berpikir. Tak heran lahir generasi yang cerdas, tetapi kehilangan kompas hidup; pintar secara intelektual namun rapuh secara emosional.

Allah telah mengingatkan:

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh ia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Beginilah wajah kesempitan itu, anak-anak tumbuh dalam tekanan ekspektasi. Namun, miskin arah spiritual. Hidup mereka dinilai dari rapor dan jumlah pengikut di media sosial, bukan pada kualitas iman.

Gejala dari Jiwa yang Kering

Fenomena bunuh diri pelajar sejatinya berakar pada kekeringan ruhiah. Sistem kapitalisme membentuk paradigma bahwa kebahagiaan hanya datang dari materi, gengsi, dan pencapaian. Nilai diri ditentukan oleh prestasi, bukan oleh ketaatan dan kedekatan dengan Allah.

Ketika ujian hidup datang dari tekanan sekolah, keluarga yang retak, atau masalah ekonomi, mereka tak memiliki sandaran kokoh. Hati yang tidak bertaut kepada Allah mudah retak, dan ketika rapuh, ujian terasa seperti tembok besar yang menutup jalan keluar.

Allah telah menegur manusia agar menjaga jiwanya:

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

Namun kasih sayang ini sulit dirasakan ketika sistem kehidupan justru menjauhkan manusia dari aturan-Nya. Modernitas berbicara lantang soal “kesehatan mental”, tetapi di saat yang sama, gaya hidup yang dipromosikannya menjauhkan manusia dari tujuan hidup yang hakiki.

Pendidikan Islam: Menata Akar dan Ruang Jiwa

Islam memandang pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan, tetapi membentuk manusia yang berkepribadian Islam, yang cara berpikir dan sikapnya bersandar pada akidah. Dalam paradigma Islam, pendidikan berfungsi menumbuhkan kekuatan iman, bukan sekadar kecerdasan logika. Anak dikenalkan sejak kecil kepada Tuhannya, misi penciptaannya, serta makna hidup sebagai hamba Allah. Gelar, pekerjaan, dan prestasi menjadi sarana, bukan tujuan.

Allah berjanji:

Siapa saja yang beriman kepada Allah, niscaya Allah memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Inilah fondasi yang membuat jiwa kuat menghadapi tekanan, bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena ia selalu tahu kemana harus kembali ketika badai datang.

Islam Sistem Penjaga Masa Depan Generasi

Sistem pendidikan yang benar-benar mampu menjadikan akidah sebagai fondasi hanya dapat diwujudkan dalam Daulah Islamiah. Dalam sistem ini, negara merancang pendidikan untuk membentuk insan bertakwa, bukan sekadar “tenaga kerja industri”.

Beberapa prinsip pentingnya antara lain:

• Kurikulum dibangun untuk menanamkan syakhsiyyah Islamiyyah.

• Ilmu pengetahuan dikembangkan dalam kerangka iman, bukan sekularisme.

• Guru berperan sebagai murabbi yang membina akal, ruh, dan akhlak.

• Negara memberi pendidikan gratis dan menghilangkan beban sosial seperti kemiskinan yang sering menjadi pemicu stres anak. Dengan fondasi seperti ini, generasi tumbuh dengan mental yang kukuh, bukan mengandalkan terapi modern semata, tetapi ditopang kedalaman iman.

Solusi Hakiki, Bukan Penambal Luka

Tragedi bunuh diri pelajar adalah alarm keras dari kerusakan sistemis yang menggerogoti generasi. Selama sekularisme tetap menjadi kerangka hidup, krisis akan terus bermetamorfosis menjadi depresi, penyimpangan, dan kehilangan arah.

Allah mempertanyakan:

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50)

Penerapan Islam secara kaffah adalah jalan satu-satunya untuk mengembalikan kehormatan manusia dan menyelamatkan jiwa generasi. Ketika iman menjadi fondasi dan syariat menjadi pedoman hidup, persoalan hidup tidak lagi mendorong manusia pada keputusasaan.

Baca Juga : Marak Tambang Ilegal

Lonjakan kasus bunuh diri pelajar adalah tanda bahwa bangsa ini sedang kehilangan arah. Umat tak boleh terus diam. Sudah saatnya meninggalkan sistem sekuler yang gagal membimbing manusia kepada tujuan hidupnya. Hanya dengan kembali kepada Islam secara menyeluruh, generasi akan diselamatkan hingga mereka tumbuh bukan dalam gelapnya keputusasaan, tetapi dalam cahaya iman dan kemuliaan hidup sebagai hamba Allah. Wallahualam.[]

Penulis : Ummu Dzakirah

Aktivis Muslimah