Catatan.co – MOTIVASI. Potret Buram Generasi. Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya dalam hati, mau di bawa ke mana generasi hari ini?
Di tengah gemerlap teknologi, kemudahan informasi, dan terbukanya berbagai peluang, mengapa begitu banyak anak muda justru kehilangan arah? Mereka bisa terhubung dengan siapa saja melalui layar, tetapi merasa kesepian dalam diam. Mereka mudah menemukan jawaban di mesin pencari, tetapi kesulitan menemukan makna hidup. Namun, mereka sibuk mengejar pengakuan manusia, tetapi kerap lupa bahwa hidup bukan hanya sekadar tentang tepuk tangan dunia.
Potret Buram Generasi Perlu Kita Renungkan Bersama
Bukan berarti semua generasi muda telah kehilangan arah. Masih banyak di antara mereka yang berprestasi, menjaga agama, dan berjuang meraih masa depan. Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai persoalan yang mengancam kehidupan mereka. Pergaulan bebas, perundungan, kecanduan media sosial, judi online, pinjaman online, hingga keterlibatan pelajar dalam aksi yang berujung kerusuhan menjadi alarm bagi kita semua.
Lantas, apakah persoalan ini semata-mata kesalahan anak muda? Tentu tidak sesederhana itu. Generasi tumbuh dalam lingkungan yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan menentukan tujuan hidupnya. Ketika kebebasan dijadikan ukuran kebahagiaan, kesenangan menjadi orientasi kehidupan, dan keberhasilan hanya diukur dari materi serta popularitas, tidak mengherankan jika sebagian anak muda tumbuh tanpa pegangan yang kokoh.
Mereka diajarkan untuk mengejar cita-cita, tetapi belum tentu dibimbing untuk memahami hakikat kehidupan. Mereka didorong menjadi juara, tetapi kurang dibekali kesabaran ketika menghadapi kegagalan. Mereka dibekali kecakapan digital, tetapi tidak selalu memiliki kemampuan menyaring informasi berdasarkan nilai kebenaran.
Baca Juga: Pengkhianatan di Tengah Bencana
Akibatnya, tidak sedikit yang mudah terbawa arus. Ketika lingkungan menawarkan kesenangan sesaat, mereka kesulitan berkata tidak. Ketika media sosial menampilkan standar kebahagiaan semu, mereka merasa hidupnya kurang berharga. Ketika masalah datang, sebagian memilih pelarian karena belum menemukan tempat bersandar dan jalan keluar yang menenangkan.
Padahal, Allah Swt. telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.
Allah Swt. berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
”Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan bukan sekadar untuk mengikuti arus zaman, mengejar popularitas, atau mengumpulkan pencapaian duniawi. Ada tujuan agung yang harus menjadi kompas kehidupan, yakni beribadah kepada Allah Swt.
Ibadah pun bukan hanya ritual yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Islam harus menjadi landasan berpikir, standar dalam menentukan perbuatan, serta pedoman dalam menjalani seluruh aspek kehidupan. Dari sinilah seorang Muslim memahami mana yang benar dan salah, mana yang halal dan haram, serta untuk apa ilmu dan kemampuan yang dimilikinya digunakan.
Karena itu, membangun generasi tidak cukup hanya dengan menasihati mereka agar berbuat baik. Keluarga perlu menghadirkan keteladanan dan suasana yang menumbuhkan keimanan. Masyarakat harus membangun lingkungan yang saling menjaga dalam kebaikan. Pendidikan perlu menanamkan kepribadian Islam, bukan sekadar mengejar nilai dan prestasi akademik.
Lebih dari itu, negara memiliki tanggung jawab menciptakan sistem kehidupan yang mendukung terbentuknya generasi bertakwa. Kebijakan pendidikan, ekonomi, media, dan pergaulan harus diarahkan untuk menjaga akal, kehormatan, serta masa depan generasi. Bukan membiarkan mereka berjuang sendirian menghadapi derasnya arus kerusakan.
Inilah pentingnya Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan. Bukan hanya menjadi identitas, simbol, atau nasihat pribadi, melainkan menjadi pedoman yang mengatur kehidupan manusia demi terwujudnya kemaslahatan.
Potret buram generasi bukan alasan untuk berputus asa. Justru menjadi panggilan bagi kita untuk berbenah, memperkuat pembinaan Islam, dan menghadirkan perubahan yang mendasar.
Sebab, generasi bukan hanya penerus, melainkan penerus peradaban. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar motivasi; mereka membutuhkan arah. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas; mereka membutuhkan fondasi iman dan ketakwaan.
Jangan biarkan generasi kehilangan kompas di tengah luasnya dunia. Mari hadirkan kembali cahaya Islam dalam kehidupan mereka, agar langkahnya tidak sekadar mengikuti zaman, tetapi berjalan menuju rida Allah Swt.
Sebab, masa depan generasi tidak cukup dibangun dengan kecanggihan teknologi, tetapi harus ditopang oleh kokohnya iman dan tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan. []
Penulis: Eka Sulistya
Aktivis Muslimah




