Stunting Menghantui Generasi, Islam Solusi Hakiki

Stunting Menghantui Generasi, Islam Solusi Hakiki

Catatan.co – OPINI. Stunting Menghantui Generasi, Islam Solusi Hakiki. Meski berbagai upaya telah dilakukan, tapi masalah stunting di Indonesia tak kunjung selesai. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Kota Bontang, di Provinsi Kalimantan Timur. Nyatanya, negeri yang kaya serta masifnya program Makan Bergizi Gratis tidak mampu mengatasi masalah gizi dan stunting.

Dilansir dari radarbontang.com, Pemerintah Kota Bontang resmi membuka pelaksanaan Operasi Timbang Serentak Tahun 2026. Operasi timbang tahun ini menyasar sebanyak 9.840 balita di seluruh wilayah Kota Bontang. Langkah ini dimaksudkan sebagai basis data ilmiah untuk merancang intervensi lanjutan pemulihan gizi dan menekan angka stunting.

Namun, sebuah catatan kritis disampaikan oleh Wali Kota Bontang. Tren penurunan stunting masih berjalan di tempat, belum menunjukkan hasil yang signifikan. Menurutnya, salah satu hambatan terbesarnya adalah fenomena “stunting sejak lahir”. Kondisi di mana bayi yang baru keluar dari rahim sudah membawa status gizi buruk. Tak pelak, hal ini memengaruhi capaian penurunan angka secara keseluruhan.

(https://radarbontang.com/pemkot-gelar-operasi-timbang-serentak-2026-sasar-9-840-balita/)

Solusi Pragmatis Ala Kapitalisme

Fakta ini tentu memilukan. Bontang, yang dikenal sebagai kota industri dengan finansial daerah yang melimpah, nyatanya belum lulus dari masalah stunting. Berdasarkan data terbaru, terdapat 1.489 sampai 1.508 balita mengalami stunting dengan wilayah yang paling banyak terdampak berada di wilayah padat penduduk dekat perusahaan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pun telah dijalankan di wilayah ini.

Program MBG yang merupakan program prioritas pemerintah telah berjalan lebih dari setahun. Program yang sedari awal dirancang untuk mencegah stunting serta malnutrisi, nyatanya belum bisa menyelesaikan masalah stunting. Bahkan, berbagai permasalahan justru kerap muncul di lapangan. Sebut saja, keracunan massal, ompreng mengandung babi, korupsi dana MBG, pemborosan anggaran, hingga Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) tak sesuai standar. Bahkan, ketika anak-anak libur sekolah distribusi MBG tetap berjalan.

Fakta lain yang terjadi di Bontang, yakni tingginya dispensasi nikah karena hamil di luar nikah. Fenomena ini menjadi salah satu faktor utama penyumbang kasus stunting. Ketidaksiapan kondisi remaja dalam mempersiapkan fisik, mental dan ilmu menyebabkan kurangnya gizi janin dari masa kehamilan. Artinya, tingginya kehamilan di luar nikah ini mengistirahatkan maraknya pergaulan bebas di wilayah ini.

Pergaulan bebas disebabkan karena pola pikir remaja yang sekuler (memisahkan agama kehidupan). Alhasil, perilaku remaja disandarkan pada kebahagiaan dan nafsu semata bukan pada aturan dari Sang Pencipta. Sistem di negara ini juga memudahkan para remaja bisa mengakses media maupun konten-konten tidak mendidik tanpa ada filter dari negara. Ini menjadi bukti bahwa masalah stunting bukan sekadar perkara kurang makan, melainkan masalah sistemis.

Tidak hanya sistem pergaulan, sistem ekonomi kapitalisme sekuler juga menyebabkan masyarakat sulit untuk memenuhi gizi dan kesehatan. Meski pemerintah mengupayakan berbagai lintas sektor dan intervensi, sayangnya semua itu belum menyentuh akar masalah sesungguhnya yakni penerapan sistem kapitalisme. Kepemimpinan kapitalistik yang berorientasi materi membuat pemerintah hanya berpacu pada angka statistik untuk mengukur keberhasilan sebuah program, tak terkecuali MBG. Program ini sangat terlihat sebagai program populis kapitalistik, karena yang dipentingkan hanya administratif dan masif. Bukan pada sejauh mana manfaat nyata yang dirasakan oleh masyarakat.

Orientasi semacam ini menyebabkan MBG tidak menyentuh akar persoalan gizi dan stunting. Stunting diakibatkan kekurangan gizi kronis pada anak. Kekurangan gizi kronis pada anak menunjukkan ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi secara berkelanjutan. Di antara faktor penyebabnya yakni rendahnya pendapatan, mahalnya harga bahan pokok, serta terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan yang layak.

Dengan demikian, menyelesaikan persoalan gizi dan stunting seharusnya bukan dengan memasifkan program MBG. Apalagi makanan MBG justru banyak didominasi oleh makanan ultra-proses food. Solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah gizi dan stunting adalah dengan memperbaiki pola ketahanan pangan skala keluarga hingga nasional oleh pemerintah.

Kepemimpinan kapitalis yang mengatur negeri ini sudah sangat vulgar menunjukkan bahwa program MBG ini tidak sepenuhnya diarahkan untuk kepentingan rakyat. Program ini lebih mengakomodasi kepentingan penguasa dan kalangan pengusaha yang terdapat dalam pengelolaan dapur SPPG. Di mana dalam praktiknya banyak diduga berasal dari lingkaran kroni kekuasaan.

Baca Juga: Demontrasi Marak

Kondisi tersebut juga menunjukkan watak penguasa dalam sistem kapitalisme yang tidak amanah dalam mengelola anggaran strategis negara. Apalagi, dana MBG berasal dari pemangkasan anggaran sektor vital lain dan dari pajak yang ditanggung oleh masyarakat. Hal ini semakin menunjukkan penguasa kapitalis memaksakan program populis yang dananya dari uang rakyat, kemudian mengklaim program tersebut sebagai keberhasilan kepemimpinannya, termasuk fenomena “stunting sejak lahir” yang diakibatkan karena tingginya kasus remaja hamil di luar nikah.

Dari sini, pentingnya negara menjaga sistem pergaulan rakyatnya, memfilter media-media serta budaya-budaya merusak. Bukan dengan menjadikannya sebagai mesin pencetak keuntungan. Sistem kapitalisme sekuler merusak generasi muda dengan memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan dan menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama.

Mekanisme Islam

Berbeda dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam pemimpin (khalifah) adalah raa’in/penggembala bagi rakyatnya. “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Maka, khalifah akan memenuhi segala kebutuhan individu primer dan komunal masyarakat sehingga tidak ada stunting. Dalam Islam, setiap kebijakan negara ditetapkan semata-semata untuk diwujudkan kemaslahatan rakyat dan terikat dengan ketentuan syariat.

Ketika negara diposisikan sebagai raa’in (pengurus dan pelayan umat), maka seluruh kebijakannya akan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rakyat secara nyata. Bukan untuk melayani kepentingan pengusaha, apalagi sekadar mengejar popularitas penguasa semata. Sebab, amanah kepemimpinan adalah tanggung jawab besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah saw. mengancam penguasa yang menyusahkan rakyat dengan ancaman yang mengerikan.

Rasulullah saw. bersabda, “Ya Allah, barang siapa memimpin umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Barang siapa memimpin umatku, lalu dia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka bersikaplah lemah lembut kepadanya.” (HR. Muslim)

Pemenuhan kebutuhan gizi rakyat dalam sistem Islam dilakukan secara integral dengan melibatkan seluruh sistem yang ada. Sistem pendidikan Islam berperan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan pola hidup sehat sesuai tuntunan Islam. Islam juga mengedukasi sistem pergaulan hingga ilmu fikih keluarga sebagai bekal mempersiapkan diri menjadi orang tua. Begitu pula, sistem ekonomi Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu, sehingga tidak ada keluarga yang terhalang aksesnya untuk mendapatkan makanan bergizi karena kemiskinan.

Selain itu, negara juga berkewajiban menyediakan lapangan kerja yang layak, agar kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizi warganya secara mandiri dan berkelanjutan. Negara menjamin ketersediaan bahan pangan yang cukup dengan harga yang terjangkau melalui pengelolaan sumber daya dan distribusi yang adil. Dengan mekanisme ini makanan bergizi tidak menjadi barang mewah, melainkan kebutuhan yang mudah dipenuhi oleh seluruh lapisan masyarakat.

Sistem Islam juga menjamin akses layanan kesehatan yang berkualitas, merata, serta gratis. Kesehatan bukan sekadar pemenuhan gizi yang masuk melalui makanan. Ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu pencegahan dengan membangun fasilitas sanitasi yang bersih untuk mencegah wabah penyakit.

Sistem pergaulan dalam Islam mengatur secara lengkap interaksi pria dan wanita agar terhindar dari pornografi dan pergaulan bebas. Negara dalam sistem Islam juga menguasai media. Negara melarang keras peredaran video pornografi serta pornoaksi. Media difungsikan sebagai sarana dakwah, edukasi, dan opini publik yang sehat.

Semua langkah ini diambil karena Islam memandang pentingnya menjaga kekuatan fisik sekaligus kualitas keimanan generasi. Hal ini selaras dengan peringatan Allah Swt.

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan)nya…” (QS. An-Nisa: 9)

Sejarah Kegemilangan Islam

Support sistem Islam ini bukan sekadar utopia di atas kertas. Namun, telah dibuktikan penerapan dan keberhasilannya. Sejarah mencatat betapa gemilangnya masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Melalui penerapan sistem ekonomi dan sosial yang adil, kesejahteraan merata hingga para petugas zakat kesulitan mencari warga yang miskin untuk diberi santunan. Pada lingkungan yang sejahtera dan bersih dari kerusakan moral seperti itulah lahir generasi emas seperti Muhammad Al-Fatih, Ibnu Sina, serta ilmuwan dunia lainnya. Mereka bukan cuma bebas dari jerat gizi buruk secara fisik, tetapi juga memiliki intelektual yang mampu memimpin dunia.

Inilah mekanisme sistem Islam, mewariskan generasi yang sehat, kuat fisik dan rohaninya. Alhasil, penurunan angka stunting bukan hanya sekadar angka statistik, melainkan bukti nyata kesehatan masyarakat.

Sudah saatnya kita melakukan evaluasi atas sistem kapitalisme sekuler yang telah nyata dampak kerusakannya. Jika Kota Bontang dan seluruh wilayah Indonesia lainnya ingin benar-benar memutus rantai stunting, maka jalan satu-satunya adalah beralih dari solusi pragmatis menuju penerapan aturan Islam yang sistemis dan menyeluruh.

Wallahu a’lam bisshawab.[]

Penulis: Ayu Putri Wandani

Aktivis Muslimah