Catatan.co – Pemuda Sejati Bangkit dengan Politik Islam. Badan Kesbangpol pada 26 Agustus 2025 di depan para pelajar SMA/K kota Balikpapan menyelenggarakan sosialisasi bertajuk “Pemuda Melek Politik, Indonesia Lebih Asyik.” Tujuan acara ini jelas untuk membekali pelajar agar memahami bahwa politik bukan hanya soal perebutan kursi maupun panggung kampanye, melainkan berkaitan dengan suara, partisipasi, dan masa depan bersama.
Acara serupa pernah juga dilaksanakan beberapa tahun lalu, dengan target pelajar. Hal ini menunjukkan keseriusan dari pemerintah mengingat dinamika politik yang terus berubah setiap waktu. Maka harapannya para pemuda paham apa itu politik.
Sumber: https://www.instagram.com/reel/DN0TxNA0mK4/?igsh=OWk2a3p5YTlpZXlr
Politik Bukan Hiburan
Tidak dimungkiri saat ini banyak pemuda masih melihat politik hanya saat pemilu saja. Masih sebatas hiburan konser, mendengarkan janji-janji, atau bagi-bagi hadiah. Praktiknya, kampanye sering berubah menjadi komoditas suara dihargai, dukungan yang diperjualbelikan, dan janji politik yang dipoles layaknya iklan yang menggiurkan. Akhirnya, fenomena money politics tak terelakkan.
Praktik klientelisme menjadikan politik bergeser dari pelayanan rakyat menjadi transaksi kepentingan. Akibatnya, suara rakyat yang seharusnya menjadi arah kebijakan justru terpinggirkan oleh kekuatan modal. Mereka yang punya uang atau jaringan besar lebih mudah mengendalikan keputusan publik.
Lebih buruk lagi, setelah pemilu selesai, partai atau koalisi sering terjebak pada tarik-menarik kepentingan ketimbang membahas kebijakan substantif demi kesejahteraan rakyat.
Perkara ini tidak bisa dianggap remeh ada pekerjaan rumah besar yang harus segera dilakukan untuk mengembalikan politik pada hakikatnya, yakni mengurus kepentingan umum.
Pembagian kekuasaan
Secara teori, d3mokr4si idealnya hadir untuk melindungi masyarakat dari dominasi kekuasaan tunggal dengan membagi fungsi negara menjadi legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Konsep trias politica yang diperkenalkan Montesquieu lahir adalah sebagai perlawanan terhadap tirani absolut. Agar tidak ada lagi satu pihak pun yang menguasai penuh roda pemerintahan dan menindas kebebasan rakyat.
Namun kenyataannya, prinsip ini tak berdaya ketika budaya politik dikuasai oleh kepentingan oligarki. Meski ada lembaga negara yang seharusnya menjaga keseimbangan kekuasaan seringkali tumpul atau bahkan terkooptasi.
Politik Sekuler
Sistem sekuler-liberal yang merupakan turunan dari kapitalisme telah menciptakan kondisi di mana agama dan nilai moral sering dijadikan sebagai alat legitimasi dalam melahirkan undang-undang kebijakan publik guna mengokohkan hegemoni kapitalisme.
Mirisnya lagi, kebijakan yang telah dibuat atau undang-undang hasil kesepakatan tersebut sewaktu-waktu bisa diamandemen sesuai kepentingan pemodal. Para pemilik modal besar akan memainkan peran dominan lewat pendanaan kampanye, lobi politik, serta kedekatan dengan kaum elit. Yang kemudian akan ada istilah, “balas budi”. Akhirnya, prinsip kedaulatan rakyat tereduksi dan kepentingan umum tergeser.
Oleh karena itu, pemuda harus bangkit dari ketidaktahuannya dan mencari tahu tentang pendidikan politik Islam. Agar mampu menganalisis permasalahan secara struktural melalui kacamata Islam. Dan menghadirkan syariat-syariat Allah sebagai solusi mendasar di semua lini kehidupan.
Baca Juga: Potensi Gen Z
Sadar Politik
Bagi Islam, politik bukan sekadar meraih kekuasaan. Politik adalah pengelolaan urusan masyarakat (as-siyâsah hiya ri’âyah asy-syu’un). Baik dalam ekonomi, sosial, pendidikan, pergaulan, kesehatan hingga sanksi hukum.
Ulama tersohor Syeikh Abdul Qadim Zallum menjelaskan, “Politik atau siyasah bermakna mengatur urusan umat, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pemerintah mengatur urusan secara praktis, sedangkan umat melakukan muhasabah terhadap pemerintah dalam menjalankan tugasnya.”
Oleh karenanya, pemuda sejati harus memiliki kesadaran politik yang benar sesuai ajaran Islam. Memahami akar permasalahan secara mendalam. Mampu membedakan hal apa saja yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh muslim maupun nonmuslim.
Pemuda Paham Sejarah
Pemuda juga harus menyadari akan pentingnya mempelajari sirah Rasulullah saw.. Menelusuri keteladanan beliau maupun para sahabat dalam memainkan peranannya membangun negara. Sigap membela dari gangguan orang-orang yang berbuat onar dan segala mara bahaya. Baik datangnya dari dalam negeri maupun luar negeri.
Bisa dipastikan, pemuda sejati yang gemar belajar akan mendapatkan pengetahuan bukan hanya sebatas teori kisah pribadi Rasul dan para sahabat, tetapi bagaimana cara menjalankan praktik kepemimpinan. Manajemen kemaslahatan, dan cara efektif menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tengah-tengah umat.
Allah Swt. telah mengingatkan di surah Ali Imran ayat 110:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.”
Ayat ini menegaskan tentang tanggung jawab kolektif umat untuk memperbaiki masyarakat yang rusak dan menegakkan keadilan.
Sejarah Rasulullah saw. pun menjadi bukti, beliau tidak hanya berdakwah membentuk individu yang saleh, tetapi juga mendirikan negara yang di dalamnya hanya boleh menerapkan hukum-hukum Allah Swt sebagai pijakannya. Selaras dengan perintah Allah dalam surah al-An’am ayat 57:
قُلْ إِنِّي عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَكَذَّبْتُم بِهِ مَا عِندِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku berada di atas bukti yang nyata dari Tuhanku, sedangkan kamu mendustakannya. Tidak ada padaku (kuasa) untuk mendatangkan apa yang kamu minta disegerakan. Menetapkan keputusan itu hanyalah hak Allah. Dia menyatakan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.”
Khatimah
Pemuda sejati adalah agen perubahan, manakala berwawasan politik Islam maka akan memahami dengan benar akar persoalan, ia tidak akan tinggal diam melihat karut-marut persoalan umat, senantiasa berani menuntut keterbukaan dan konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat di bawah panji tauhid.
Inilah saatnya pemuda sejati bangkit dari tidur panjangnya, terbuka mata hatinya untuk menjadi bagian penegak peradaban Islam yang diridai Allah.
Mari renungkan sejenak pesan Rasulullah saw. di bawah ini:
“Barang siapa bangun pagi hari dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” (HR. al-Hakim)
Wallahu a’lam bish shawab[]
Penulis: Mimi Muthmainnah
(Pegiat Literasi)




